Judol dan Pinjol Saling Berkaitan, Mengapa Anak Muda hingga Orang Tua Sulit Lepas?

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi judol dan pinjol

ilustrasi judol dan pinjol

Jakarta, APGtimes.com – Judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) kini menjadi dua persoalan yang kerap berjalan beriringan. Awalnya terlihat sederhana. Satu menawarkan uang cepat, sementara yang lain menjanjikan pinjaman dalam hitungan menit.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang jauh lebih panjang. Seseorang bisa masuk ke dalamnya karena penasaran, kebutuhan mendesak, atau sekadar ingin mencoba. Setelah itu, masalah dapat berkembang menjadi utang, kehilangan penghasilan, hingga tekanan dalam keluarga.

Yang menarik, judol dan pinjol tidak hanya menyasar anak muda. Orang tua juga bisa terjebak dalam lingkaran yang sama. Perbedaannya hanya pada alasan awal dan cara mereka menghadapi masalah.

Berawal dari Hal yang Terlihat Kecil

Bagi sebagian orang, judol mungkin bermula dari iklan yang muncul di media sosial. Ada pula yang mengenalnya melalui teman atau grup percakapan.

Begitu juga dengan pinjol. Tawaran pinjaman cepat dapat muncul ketika seseorang membutuhkan uang untuk membayar kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, cicilan, atau keperluan mendadak.

Masalah muncul ketika seseorang mulai menggunakan uang pinjaman untuk menutup kebutuhan yang sebelumnya belum terselesaikan.

Lebih berbahaya lagi jika uang pinjaman digunakan untuk mengejar kekalahan dalam judi online.

Di titik itu, keduanya dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus.

Saat Kekalahan Membuat Utang Bertambah

Seseorang yang kalah bermain judol bisa berpikir bahwa satu kemenangan akan mengembalikan uang yang hilang.

Baca Juga :  Sudaryono Tegas Bersih-bersih BGN, ASN dan PPPK Main Judol Terancam Dipecat

Ia kemudian mencari modal tambahan.

Jika tabungan sudah habis, pinjaman bisa terlihat sebagai jalan keluar. Setelah meminjam, uang kembali masuk ke permainan dengan harapan mendapatkan kemenangan.

Ketika kembali kalah, utang justru bertambah.

Siklusnya menjadi sederhana tetapi berbahaya:

kalah → pinjam uang → bermain lagi → kalah → mencari pinjaman baru.

Semakin lama, persoalannya bukan lagi sekadar judi. Ada kewajiban membayar utang yang terus mengejar.

Anak Muda dan Orang Tua Sama-sama Bisa Terjebak

Anak muda memiliki akses yang sangat mudah ke internet. Promosi judol dapat muncul ketika mereka menggunakan media sosial atau bermain gim.

Sementara itu, orang tua bisa menghadapi tekanan yang berbeda.

Kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, cicilan, hingga kebutuhan mendadak dapat membuat pinjaman cepat terlihat sebagai solusi praktis.

Karena itu, menganggap judol dan pinjol hanya sebagai masalah anak muda merupakan kesalahan.

Keduanya dapat menyentuh berbagai kelompok usia.

Mengapa Sulit Berhenti?

Persoalan terbesar bukan selalu soal kurangnya pengetahuan.

Banyak orang sebenarnya mengetahui bahwa judol berisiko dan pinjaman dapat menimbulkan utang. Namun, ketika seseorang sudah masuk terlalu jauh, keputusan berikutnya sering muncul karena tekanan.

Orang yang kalah ingin mengembalikan uangnya.

Orang yang terlilit utang ingin mencari uang untuk membayar cicilan.

Pada akhirnya, keputusan yang awalnya dianggap sebagai jalan keluar justru dapat memperpanjang masalah.

Baca Juga :  DPR Minta KPK Ajukan Rp 5 Triliun, Setyo Budiyanto Langsung Menolak

Tanda-tanda yang Sering Tidak Disadari

Ada beberapa perubahan perilaku yang patut diperhatikan keluarga.

Misalnya, seseorang mulai sering meminjam uang tanpa menjelaskan kebutuhan secara jelas. Pengeluaran juga meningkat, tetapi kondisi ekonomi justru semakin buruk.

Tanda lainnya adalah sering menyembunyikan aktivitas di ponsel, menerima banyak pesan terkait pinjaman atau pembayaran, serta mulai menjual barang pribadi.

Perubahan emosi juga perlu diperhatikan.

Seseorang yang menghadapi tekanan finansial bisa menjadi lebih mudah marah, menarik diri dari keluarga, atau terus memikirkan cara mendapatkan uang.

Jangan Menunggu Sampai Semuanya Terlambat

Judol dan pinjol bukan sekadar persoalan tentang uang.

Keduanya bisa memengaruhi hubungan keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan masa depan seseorang.

Karena itu, pembicaraan mengenai persoalan tersebut perlu dimulai dari rumah.

Anak perlu merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi masalah keuangan. Orang tua juga perlu terbuka ketika mengalami kesulitan agar keluarga dapat mencari solusi bersama.

Sebab, semakin lama masalah disembunyikan, semakin sulit pula mencari jalan keluarnya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya “Mengapa mereka bermain judol?” atau “Mengapa mereka mengambil pinjol?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang membuat seseorang merasa tidak punya pilihan lain?”

Dari pertanyaan itulah kita bisa mulai memahami mengapa judol dan pinjol begitu sulit dilepaskan dari kehidupan sebagian anak muda maupun orang tua. (rm*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menkes Ajukan Rp1,39 Triliun untuk Perbaiki RS dan Puskesmas Rusak akibat Gempa NTT
Mendagri Sentil Pemda Lambat Salurkan Bantuan Gempa NTT, Ada yang Baru 1 Persen
Gugatan Perpanjangan Masa Jabatan Kapolri Dicabut, MK Tutup Perkara
Dana Desa untuk Bayar Utang Kopdes, Yandri Pastikan Pembangunan Desa Tak Terganggu
MK Tolak Uji Materi KUHAP dan Anggaran MBG 2026
Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla, 116 Sengaja Bakar Hutan dan Lahan
Mendes Yandri Usul Desa Ikut Dapat Jatah Tanah Reforma Agraria, Ini Alasannya
Sahroni Pastikan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember, Tapi Ada Catatannya
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 23:09 WIB

Menkes Ajukan Rp1,39 Triliun untuk Perbaiki RS dan Puskesmas Rusak akibat Gempa NTT

Senin, 7 September 2026 - 22:09 WIB

Mendagri Sentil Pemda Lambat Salurkan Bantuan Gempa NTT, Ada yang Baru 1 Persen

Senin, 7 September 2026 - 20:09 WIB

Gugatan Perpanjangan Masa Jabatan Kapolri Dicabut, MK Tutup Perkara

Senin, 7 September 2026 - 19:09 WIB

Dana Desa untuk Bayar Utang Kopdes, Yandri Pastikan Pembangunan Desa Tak Terganggu

Senin, 7 September 2026 - 17:09 WIB

Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla, 116 Sengaja Bakar Hutan dan Lahan

Berita Terbaru