Jakarta, APGtimes.com – PDI Perjuangan menegaskan kembali posisi politiknya setelah sejumlah partai koalisi pemerintah mempertanyakan sikap partai berlambang banteng moncong putih tersebut terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ketua DPP PDI-P Deddy Yevri Sitorus menjelaskan bahwa partainya mengambil peran penyeimbang untuk menjaga kualitas demokrasi dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Menurut Deddy, posisi penyeimbang memberi ruang bagi PDI-P untuk mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Pada saat yang sama, partai juga memiliki kebebasan untuk menyampaikan kritik, masukan, dan pandangan berbeda ketika diperlukan.
PDI-P Tekankan Pentingnya Checks and Balances
Deddy menilai demokrasi membutuhkan mekanisme checks and balances agar seluruh lembaga negara dapat menjalankan fungsi masing-masing secara optimal.
Ia melihat mayoritas kursi DPR saat ini berada di tangan partai-partai yang juga mengisi kabinet pemerintahan.
Karena kondisi tersebut, PDI-P memilih menjalankan fungsi pengawasan dari luar pemerintahan.
Deddy kemudian mengajukan pertanyaan kepada publik mengenai keberanian partai-partai yang memiliki menteri di kabinet untuk mengkritik kebijakan pemerintah atau mengevaluasi kinerja menterinya sendiri.
Menurutnya, fungsi pengawasan akan melemah apabila seluruh kekuatan politik hanya berada dalam satu barisan.
PDI-P Ingatkan Peran DPR
Deddy menegaskan bahwa DPR tidak hanya bertugas mendukung program pemerintah.
Lembaga legislatif juga harus mengawasi penggunaan kekuasaan dan memastikan setiap kebijakan berjalan sesuai aturan.
Ia menilai parlemen harus berani menyampaikan kritik jika menemukan kebijakan yang memerlukan perbaikan.
Menurut Deddy, demokrasi akan kehilangan keseimbangannya apabila seluruh fraksi hanya menyetujui keputusan eksekutif tanpa memberikan pandangan alternatif.
Karena itu, PDI-P memandang posisi penyeimbang tetap memiliki peran penting dalam sistem politik Indonesia.
Golkar Pertanyakan Fungsi Penyeimbang
Perdebatan mengenai posisi politik PDI-P bermula dari pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhamad Sarmuji.
Sarmuji mengakui bahwa PDI-P tidak bergabung dalam pemerintahan Prabowo.
Namun, ia mempertanyakan bentuk nyata fungsi penyeimbang yang selama ini diklaim PDI-P.
Menurutnya, masyarakat dapat menilai sendiri bagaimana peran tersebut berjalan dalam praktik politik sehari-hari.
Meski demikian, Golkar tetap menghormati pilihan politik yang diambil PDI-P.
PKB Ikut Soroti Posisi Politik PDI-P
Selain Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menyoroti sikap politik PDI-P.
PKB meminta PDI-P menunjukkan posisi yang lebih tegas dalam hubungan dengan pemerintahan Prabowo.
Sementara itu, Partai Amanat Nasional (PAN) memilih menghormati sikap politik yang diambil partai banteng tersebut.
Perdebatan antarpartai semakin menguat setelah muncul dugaan keterlibatan kader PDI-P Andi Widjajanto dalam aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Isu tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi mengenai posisi politik PDI-P di tengah konfigurasi pemerintahan saat ini.
PDI-P Pilih Tetap Jalankan Sikap Politik
Deddy memastikan PDI-P akan terus menjalankan peran politik sesuai garis perjuangan partai.
Ia menegaskan bahwa partainya akan mendukung kebijakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebaliknya, PDI-P juga akan menyampaikan kritik apabila menemukan kebijakan yang memerlukan evaluasi.
Menurut Deddy, langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen partai dalam menjaga keseimbangan demokrasi dan memperkuat fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. (de*)









