Purbaya Perketat Pengawasan Barang Ilegal demi Jaga Ekonomi Nasional

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Selasa (5/5/2026) malam.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Selasa (5/5/2026) malam.

Jakarta, APGtimes.com — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah akan memperketat pengawasan barang ilegal di pasar domestik. Pemerintah mengambil langkah itu untuk menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat dunia usaha nasional.

Purbaya mengatakan pemerintah kini fokus meningkatkan konsumsi masyarakat dan belanja nasional. Pemerintah juga terus memperbaiki iklim investasi agar pelaku usaha semakin efisien dan kompetitif.

“Saya akan galakkan lagi penjagaan pasar domestik dari barang-barang ilegal yang katanya agak ramai lagi sekarang. Walaupun BC sudah bekerja lebih keras dari sebelumnya,” ujar Purbaya di Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Pemerintah menganggap perlindungan pasar domestik sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah juga ingin menghadapi ketidakpastian ekonomi global dengan memperkuat pasar dalam negeri.

Baca Juga :  Bank Dunia Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh 5 Persen Meski Dunia Dihantam Krisis Energi

Selain itu, pemerintah terus meningkatkan pengawasan arus barang impor. Bea dan Cukai ikut memperketat pengawasan barang yang masuk ke Indonesia.

Purbaya menilai sentimen negatif dan faktor psikologis masih memengaruhi sebagian pelaku usaha. Menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Ia menegaskan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif. Pemerintah juga optimistis mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kelihatannya walaupun bagus, orang masih agak takut. Karena banyak yang nakut-takutin, katanya mau 1998, padahal kan sudah kita buktikan, kita tumbuhnya kencang dan ini akan kita pertahankan,” katanya.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar AS, Ketua Banggar DPR Sebut Sudah Terlalu Murah

Purbaya menegaskan sektor swasta tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, pemerintah terus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Pemerintah juga memastikan likuiditas perbankan tetap cukup. Langkah itu bertujuan agar pelaku usaha lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan.

“Pebisnis enggak usah takut, kita akan membaik terus ke depan. Perbankan akan kita pastikan uangnya cukup di sistem perekonomian sehingga dunia usaha bisa dapat akses ke pembiayaan,” ujar Purbaya.

Pemerintah berharap berbagai kebijakan tersebut mampu menjaga aktivitas ekonomi tetap stabil pada kuartal II 2026. Pemerintah juga ingin memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu
Pedagang Pasar Aur Duri Jambi Mulai Ramai Gunakan QRIS BRI, Pembeli Makin Praktis
Rupiah dan IHSG Kompak Anjlok di Awal Perdagangan, Bursa Merah di Seluruh Sektor
IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang
Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia
Harga Emas Jambi Hari Ini 29 Juni 2026, Antam Turun Rp15.000 per Gram
OJK Beberkan Kondisi Terbaru Perbankan Indonesia, Likuiditas Masih Kuat Meski Ekonomi Global Bergejolak
Harga Emas Jambi Hari Ini Bertahan, Antam Naik Jadi Rp2,66 Juta per Gram
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:09 WIB

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:09 WIB

Pedagang Pasar Aur Duri Jambi Mulai Ramai Gunakan QRIS BRI, Pembeli Makin Praktis

Selasa, 30 Juni 2026 - 11:09 WIB

Rupiah dan IHSG Kompak Anjlok di Awal Perdagangan, Bursa Merah di Seluruh Sektor

Senin, 29 Juni 2026 - 14:09 WIB

IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang

Senin, 29 Juni 2026 - 13:09 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia

Berita Terbaru