Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dollar AS pada awal perdagangan Senin (21/9/2026). Pergerakan mata uang Garuda masih menjadi perhatian pasar seiring munculnya sejumlah sentimen global.
Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp17.786 per dollar AS. Posisi tersebut turun 28 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026) yang berada di level Rp17.758 per dollar AS.
Pada saat yang sama, indeks dollar AS (DXY) bergerak relatif stabil. Indeks yang mengukur kekuatan dollar terhadap enam mata uang utama dunia itu berada di level 100,217 pada pukul 09.00 WIB.
Geopolitik Jadi Perhatian Pasar
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut perkembangan geopolitik global menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah sepanjang pekan ini.
Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Perkembangan konflik di kawasan tersebut kini juga berkaitan dengan situasi di Laut Merah dan Selat Al-Mandeb.
“Yang pertama adalah faktor geopolitik. Yang kedua adalah kebijakan politik di Amerika pasca menantikan pemilu sela di bulan November. Kemudian, kebijakan Bank Sentral Amerika,” kata Ibrahim, Minggu (20/9/2026).
Menurut dia, kondisi di sekitar Selat Al-Mandeb perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi sentimen pasar global.
Pasar Menunggu Arah Suku Bunga
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Kebijakan The Federal Reserve atau The Fed dapat memengaruhi pergerakan dollar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar domestik juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Keputusan BI mengenai suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Ibrahim juga menyoroti meningkatnya aktivitas diplomatik China terkait situasi geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi disebut mendorong Washington dan Teheran agar menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan konsultasi dengan pejabat China dan Pakistan mengenai perkembangan situasi kawasan.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pasar akan mencermati perkembangan geopolitik global sekaligus arah kebijakan bank sentral AS dan Bank Indonesia sepanjang pekan ini. (aw*)









