Iran Bersiap Perang Lebih Besar, Selat Hormuz Makin Tegang dan Jalur Kapal Terancam

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026. (AFP)

Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026. (AFP)

Teheran, APGtimes.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat pada Senin (17/8/2026). Kebuntuan pembicaraan mengenai pembukaan Selat Hormuz membuat kawasan Teluk menghadapi risiko eskalasi baru.

Situasi tersebut muncul ketika masa berlaku nota kesepahaman (MoU) Iran-AS memasuki batas akhir. Pada saat yang sama, Iran disebut memperkuat persiapan militernya untuk menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan.

Laporan The Wall Street Journal menyebut pemimpin garis keras Iran memanfaatkan masa tenang setelah kesepakatan Juni untuk memperkuat kemampuan militer. Teheran disebut meningkatkan produksi rudal dan drone, memperluas operasi kontraintelijen, serta memperkuat peran Garda Revolusi Iran (IRGC).

Selat Hormuz Belum Kembali Normal

Perselisihan mengenai pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan Iran dan AS.

Iran masih meminta sejumlah persyaratan sebelum membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Sementara itu, Washington terus memberikan tekanan kepada Teheran agar lalu lintas kapal kembali normal.

Baca Juga :  Lautan Manusia Iringi Pemakaman Ali Khamenei di Qom, Prosesi Berlanjut ke Mashhad

Dampaknya mulai terlihat pada aktivitas pelayaran. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya lima kapal pengangkut komoditas yang melintas pada Sabtu, sedangkan tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik.

Kondisi itu turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak Brent sempat mencapai 89,40 dollar AS per barel pada Senin sebelum bergerak turun tipis ke sekitar 89,28 dollar AS.

Iran Perkuat Jaringan di Kawasan

Selain memperkuat kemampuan militernya di dalam negeri, Iran disebut meningkatkan koordinasi dengan kelompok sekutu di sejumlah negara Timur Tengah.

Laporan WSJ menyebut IRGC mengirim penasihat ke Irak, Yaman, dan Lebanon. Iran juga disebut memperkuat penempatan rudal, persenjataan laut, serta peluncur drone di kawasan yang menghadap Laut Merah.

Ketegangan bahkan kembali terlihat di Irak pada Senin. Dua drone menyerang kantor Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan. Badan keamanan Kurdistan menyatakan serangan tersebut berasal dari wilayah Iran, meski tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

Baca Juga :  Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Iran Klaim Menang dalam Perang

Di tengah ketegangan tersebut, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Iran telah mencapai kemenangan militer dan politik dalam perang melawan AS dan Israel.

Pernyataan itu muncul tepat ketika periode 60 hari MoU Iran-AS memasuki batas akhir pada 17 Agustus.

Sementara itu, peluang tercapainya kesepakatan baru masih menghadapi hambatan. Pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz belum menunjukkan perkembangan berarti.

Jika kebuntuan diplomasi berlanjut dan aktivitas militer kembali meningkat, kawasan Teluk berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar. Selain keamanan regional, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi arus perdagangan dan harga energi dunia. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu
Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja
Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang
Trump Klaim “Mission Accomplished” di Iran, Tapi Tujuan Perang AS Dipertanyakan
Iran Terancam Krisis, Harga BBM Bisa Naik hingga Rp 11.000 per Liter
4,3 Juta Mobil Listrik di China Direcall, Gagang Pintu Jadi Masalah
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 15:09 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Selasa, 1 September 2026 - 19:09 WIB

Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:09 WIB

Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:09 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang

Berita Terbaru

Ilustrasi beli BBM bersubsidi pakai MyPertamina(Dok. Pertamina)

Otomotif

Pertamina Batalkan Rencana Wajib STNK Saat Beli BBM di SPBU

Jumat, 4 Sep 2026 - 18:09 WIB