Teheran, APGtimes.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat pada Senin (17/8/2026). Kebuntuan pembicaraan mengenai pembukaan Selat Hormuz membuat kawasan Teluk menghadapi risiko eskalasi baru.
Situasi tersebut muncul ketika masa berlaku nota kesepahaman (MoU) Iran-AS memasuki batas akhir. Pada saat yang sama, Iran disebut memperkuat persiapan militernya untuk menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan.
Laporan The Wall Street Journal menyebut pemimpin garis keras Iran memanfaatkan masa tenang setelah kesepakatan Juni untuk memperkuat kemampuan militer. Teheran disebut meningkatkan produksi rudal dan drone, memperluas operasi kontraintelijen, serta memperkuat peran Garda Revolusi Iran (IRGC).
Selat Hormuz Belum Kembali Normal
Perselisihan mengenai pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan Iran dan AS.
Iran masih meminta sejumlah persyaratan sebelum membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Sementara itu, Washington terus memberikan tekanan kepada Teheran agar lalu lintas kapal kembali normal.
Dampaknya mulai terlihat pada aktivitas pelayaran. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya lima kapal pengangkut komoditas yang melintas pada Sabtu, sedangkan tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik.
Kondisi itu turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak Brent sempat mencapai 89,40 dollar AS per barel pada Senin sebelum bergerak turun tipis ke sekitar 89,28 dollar AS.
Iran Perkuat Jaringan di Kawasan
Selain memperkuat kemampuan militernya di dalam negeri, Iran disebut meningkatkan koordinasi dengan kelompok sekutu di sejumlah negara Timur Tengah.
Laporan WSJ menyebut IRGC mengirim penasihat ke Irak, Yaman, dan Lebanon. Iran juga disebut memperkuat penempatan rudal, persenjataan laut, serta peluncur drone di kawasan yang menghadap Laut Merah.
Ketegangan bahkan kembali terlihat di Irak pada Senin. Dua drone menyerang kantor Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan. Badan keamanan Kurdistan menyatakan serangan tersebut berasal dari wilayah Iran, meski tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Iran Klaim Menang dalam Perang
Di tengah ketegangan tersebut, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Iran telah mencapai kemenangan militer dan politik dalam perang melawan AS dan Israel.
Pernyataan itu muncul tepat ketika periode 60 hari MoU Iran-AS memasuki batas akhir pada 17 Agustus.
Sementara itu, peluang tercapainya kesepakatan baru masih menghadapi hambatan. Pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz belum menunjukkan perkembangan berarti.
Jika kebuntuan diplomasi berlanjut dan aktivitas militer kembali meningkat, kawasan Teluk berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar. Selain keamanan regional, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi arus perdagangan dan harga energi dunia. (de*)









