Teheran, APGtimes.com – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menunjuk enam komandan militer senior baru pada Senin (10/8/2026). Langkah ini menjadi bagian dari upaya Iran membangun kembali struktur komando setelah serangkaian serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel menewaskan sejumlah pejabat senior.
Penunjukan tersebut mencakup sejumlah posisi penting di angkatan bersenjata Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan pasukan paramiliter Basij.
Khamenei menunjuk Ali Abdollahi sebagai kepala staf angkatan bersenjata Iran. Ia juga memilih Kioumars Heydari sebagai wakil kepala staf.
Selain itu, Khamenei mengangkat Ahmad Vahidi sebagai panglima IRGC. Ia sekaligus menaikkan pangkat Vahidi menjadi mayor jenderal.
Mostafa Izadi kini menjabat wakil komandan IRGC. Sementara itu, Ali Azmaei memimpin Angkatan Laut IRGC dan Hossein Taeb memimpin pasukan Basij.
Iran Siapkan Struktur Komando Baru
Pakar kontraterorisme Dr Omar Mohammed menilai penunjukan tersebut memiliki pesan strategis. Direktur Antisemitism Research Initiative di Program on Extremism, George Washington University, itu menyoroti waktu pengumuman dan bahasa yang digunakan pemerintah Iran.
Menurut Mohammed, kantor Mojtaba Khamenei mengumumkan penunjukan tersebut dalam bahasa Inggris melalui media sosial X. Pengumuman itu muncul ketika negosiator Iran dan Oman membahas koordinat rute pelayaran yang diusulkan melalui Selat Hormuz.
Mohammed menilai urutan tersebut menunjukkan bahwa Iran ingin memperkuat struktur komando sebelum mengambil keputusan terkait kesepakatan apa pun.
Ia juga menyoroti istilah “musuh Zionis-Amerika” dalam pengumuman resmi Iran. Istilah tersebut merujuk pada pihak yang Iran anggap bertanggung jawab atas kematian sejumlah komandan militer.
Menurut Mohammed, penggunaan istilah itu menunjukkan bahwa Iran menempatkan AS sebagai pihak yang terlibat langsung dalam konflik.
Komandan IRGC Diminta Siap Operasi
Perombakan tersebut tidak sekadar mengisi posisi yang kosong. Mohammed mengatakan Mojtaba Khamenei juga memberi Ahmad Vahidi instruksi untuk mempertahankan kesiapan menghadapi operasi ofensif.
Sementara itu, Ali Abdollahi mendapat tugas mengintegrasikan Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran ke dalam Khatam Al-Anbiya. Struktur tersebut berfungsi sebagai komando gabungan Iran pada masa perang.
Mohammed menilai langkah Iran berbeda dari pola negara yang hendak mengakhiri konflik.
“Negara-negara yang keluar dari konflik membongkar struktur komando masa perang mereka, tetapi Iran justru sedang melembagakannya,” kata Mohammed.
Ia menilai rangkaian keputusan tersebut menunjukkan bahwa Iran tengah mempersiapkan diri menghadapi konfrontasi yang berlangsung lama.
Iran Bangun Kembali Kepemimpinan
Perombakan militer berlangsung ketika Iran masih membangun kembali struktur politik dan pertahanannya. Serangan AS dan Israel sebelumnya menewaskan sejumlah pejabat senior Iran.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, meninggal dunia dalam serangan pada 28 Februari. Peristiwa tersebut menandai awal perang.
Mojtaba Khamenei kemudian terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran pada Maret.
Pada 17 Maret, Ali Larijani turut tewas dalam serangan. Saat itu, Larijani menjabat sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan menjadi salah satu tokoh penting dalam urusan keamanan serta kebijakan luar negeri.
Komandan Basij Gholamreza Soleimani juga meninggal dalam serangan tersebut.
Namun, Mohammed menilai pembenahan struktur militer Iran belum mencakup seluruh aparat intelijen. Iran belum mengumumkan ketua baru untuk Organisasi Intelijen IRGC maupun badan kontraintelijennya.
Iran juga masih belum memiliki menteri pertahanan dan menteri intelijen permanen. (yp*)









