Yusril Buka Suara soal 8 WNI Diduga Gabung Militer Rusia, Pemerintah Masih Verifikasi

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra memastikan akan melakukan pembenahan dan penguatan pengawasan di Menko Imipas.(KOMPAS.com/SUCI RAHAYU)

Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra memastikan akan melakukan pembenahan dan penguatan pengawasan di Menko Imipas.(KOMPAS.com/SUCI RAHAYU)

Jakarta, APGtimes.com – Pemerintah masih mengecek laporan Ukraina soal delapan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga bergabung dengan militer Rusia.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan pemerintah.

Yusril mengatakan pemerintah perlu memastikan kebenaran informasi tersebut. Pemerintah juga akan mengecek identitas delapan WNI dalam laporan Ukraina.

“Informasi itu masih kami pelajari dengan hati-hati,” kata Yusril, Rabu (2/9/2026).

Pemerintah akan menelusuri status kewarganegaraan mereka. Selain itu, pemerintah akan memeriksa proses perekrutan dan tawaran yang mereka terima.

Pemerintah juga ingin memastikan apakah mereka benar-benar masuk militer Rusia.

FISU Sebut Ada Delapan WNI

Foreign Intelligence Service of Ukraine (FISU) sebelumnya mengeluarkan laporan soal dugaan perekrutan delapan WNI.

FISU mencantumkan delapan nama dalam dokumen tersebut. Mereka yakni Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Muhammad Syaripudin, M Hadi Maulana, Wahyu Oktavian Iskandar, dan Helmi Nuraha Hakim.

Baca Juga :  Iran Siapkan Target Balasan jika AS dan Israel Menyerang Lagi, Produksi Senjata Naik 2,5 Kali Lipat

Menurut FISU, perekrut menawarkan gaji tinggi kepada calon anggota. Perekrut juga menawarkan pekerjaan non-tempur dan kemudahan memperoleh kewarganegaraan Rusia.

Selain itu, tawaran tersebut mencakup sejumlah fasilitas sosial.

Namun, pemerintah Indonesia belum mengonfirmasi kebenaran laporan tersebut.

Yusril Soroti Aspek Hukum

Yusril mengatakan pemerintah akan melihat persoalan ini dari dua sisi jika laporan tersebut terbukti.

Pertama, pemerintah harus melindungi WNI yang mungkin menjadi korban penipuan atau eksploitasi.

Kedua, pemerintah perlu melihat konsekuensi hukum bagi WNI yang sengaja masuk militer asing tanpa izin Presiden.

Yusril merujuk Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Aturan tersebut mengatur sejumlah kondisi yang dapat membuat seseorang kehilangan kewarganegaraan Indonesia.

Baca Juga :  Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Salah satunya berlaku bagi WNI yang masuk dinas tentara asing tanpa izin lebih dahulu dari Presiden.

Karena itu, pemerintah tidak hanya memeriksa keberadaan delapan WNI tersebut. Pemerintah juga akan menelusuri proses perekrutan dan alasan mereka bergabung.

Rekrutmen Diduga Lewat Negara Ketiga

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut intelijen Indonesia mendapat informasi soal perekrutan WNI melalui negara ketiga.

Menurut Dasco, perekrut menawarkan pekerjaan sebagai petugas keamanan atau tenaga administrasi. Mereka juga menawarkan gaji tinggi.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan pada 31 Agustus 2026 bahwa dirinya belum menerima informasi intelijen mengenai delapan WNI tersebut.

FISU merilis laporan mengenai dugaan perekrutan itu pada 27 Agustus 2026. Pemerintah Indonesia kini masih mengecek seluruh informasi tersebut sebelum mengambil kesimpulan. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Berita Terbaru

Salah satu dapur MBG

Ekonomi & Bisnis

7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:04 WIB