Kortastipidkor Temukan 3 Masalah Besar dalam Program Kopdes Merah Putih

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 9 September 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasubdit II Direktorat Pencegahan Kortastipidkor Polri, Kombes Affandi Eka Putra ketika menjelaskan terkait koperasi desa yang merupakan program prioritas, Rabu (9/9/2026).(Febryan Kevin/Kompas.com )

Kasubdit II Direktorat Pencegahan Kortastipidkor Polri, Kombes Affandi Eka Putra ketika menjelaskan terkait koperasi desa yang merupakan program prioritas, Rabu (9/9/2026).(Febryan Kevin/Kompas.com )

Jakarta, APGtimes.com – Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Bareskrim Polri menemukan sejumlah persoalan mendasar dalam pelaksanaan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau Kopdes Merah Putih.

Kortastipidkor menemukan persoalan tersebut setelah melakukan pemantauan dan analisis terhadap program Kopdes Merah Putih. Langkah itu menjadi bagian dari upaya pencegahan korupsi pada program prioritas pemerintah.

Pemda Dinilai Belum Maksimal Terlibat

Kasubdit II Direktorat Pencegahan Kortastipidkor Polri Kombes Affandi Eka Putra mengatakan, salah satu persoalan utama berkaitan dengan keterlibatan pemerintah daerah.

Berdasarkan hasil monitoring, pemerintah daerah dinilai belum sepenuhnya berani atau mampu mengambil peran dalam pelaksanaan program Kopdes Merah Putih.

“Pertama, permasalahannya adalah keterlibatan daerah. Ya, dari hasil monitoring kami, daerah sepertinya bukan enggan ya, tapi lebih ke arah belum berani atau belum bisa untuk ikut berpartisipasi atau bekerja sama melaksanakan kegiatan program ini,” kata Affandi di Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Baca Juga :  Prabowo Tiba di Kalimantan, Langsung Cek Penanganan Karhutla

Kortastipidkor Soroti Persoalan Kewenangan

Selain keterlibatan pemerintah daerah, Kortastipidkor juga melihat perlunya penyesuaian kewenangan dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah.

Affandi menilai pemerintah pusat perlu memberikan pelimpahan kewenangan kepada pemerintah daerah. Dengan begitu, daerah memiliki dasar yang jelas untuk ikut menjalankan program Kopdes Merah Putih.

Karena itu, Affandi merekomendasikan pemerintah segera menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur pelimpahan kewenangan tersebut.

“Yang mengatur salah satunya pelimpahan kewenangan urusan pusat menjadi urusan pemerintah daerah. Nah, dengan adanya Perpres ini, maka pemerintah daerah akan punya kewenangan nih, untuk ikut berpartisipasi dalam menyukseskan acara, program Koperasi Merah Putih,” ujarnya.

Dengan adanya kewenangan yang lebih jelas, pemerintah daerah juga dapat menyesuaikan anggaran serta melibatkan sumber daya manusia untuk mendukung program tersebut.

Pengadaan Kopdes Dinilai Kurang Transparan

Di sisi lain, Kortastipidkor menemukan persoalan lain dalam proses pengadaan barang dan kebutuhan Kopdes Merah Putih.

Baca Juga :  Tito Karnavian Ungkap Kondisi Terbaru Banjir Padang, Pastikan Tak Ada Kerusakan Berat

Affandi menilai transparansi pengadaan masih sangat minim. Kondisi tersebut, menurut dia, berpotensi menimbulkan persoalan apabila mekanisme pengadaan tidak berjalan secara terbuka dan akuntabel.

“Ini menjadi fokus kita juga agar akuntabilitas dari proses pengadaan itu bisa ditingkatkan,” kata Affandi.

Ia mencontohkan persoalan mobil pikap yang sebelumnya menjadi perhatian publik. Menurut Affandi, masalah tersebut menunjukkan pentingnya memperbaiki transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan Kopdes.

Namun, Affandi belum membeberkan secara teknis langkah yang akan dilakukan Kortastipidkor untuk mendorong perbaikan sistem pengadaan tersebut.

Pembangunan Fisik Capai 60-70 Persen

Sementara itu, pembangunan fisik gedung Kopdes Merah Putih kini memasuki tahap kedua. Perkembangannya mencapai sekitar 60 hingga 70 persen dari target pendirian 80.000 koperasi.

Dengan demikian, Kortastipidkor masih memantau pelaksanaan program tersebut. Pengawasan itu dilakukan untuk mengidentifikasi potensi persoalan sejak awal sekaligus mencegah terjadinya penyimpangan dalam program Kopdes Merah Putih. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Berita Terbaru

Salah satu dapur MBG

Ekonomi & Bisnis

7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:04 WIB