Jakarta, APGtimes.com – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mendesak pemerintah memperkuat perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi.
Netty menilai anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh menunggu masyarakat jatuh sakit sebelum mengambil langkah penanganan. Sistem kesehatan harus mulai bersiap ketika kualitas udara menunjukkan penurunan.
“Jangan menunggu masyarakat sakit baru negara bergerak. Ketika kualitas udara mulai memburuk, sistem kesehatan harus sudah bersiap,” kata Netty dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Pemerintah Diminta Perkuat Peringatan Dini
Netty mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan dini terkait dampak kesehatan akibat karhutla. Pemerintah perlu mengintegrasikan data kualitas udara, wilayah terdampak, kepadatan penduduk, hingga tren penyakit pernapasan.
Ia menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan menghitung luas lahan yang terbakar. Pemerintah juga perlu menghitung jumlah masyarakat yang terpapar asap serta kebutuhan layanan kesehatan yang muncul akibat kondisi tersebut.
Selain itu, Netty meminta pemerintah memastikan fasilitas kesehatan di daerah rawan karhutla memiliki kesiapan yang memadai.
Puskesmas dan rumah sakit perlu mendapatkan dukungan obat-obatan, alat kesehatan, tenaga medis, serta mekanisme pelayanan khusus bagi kelompok rentan.
“Respons kesehatan jangan hanya bersifat reaktif ketika pasien sudah berdatangan ke puskesmas. Harus ada kesiapsiagaan sebelum, saat, dan setelah karhutla,” ujarnya.
Kasus ISPA Capai 50.891
Dampak kesehatan akibat karhutla terlihat dari meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla selama Juli hingga Agustus 2026.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Andi Saguni mengatakan pihaknya mulai melakukan pemantauan melalui sistem surveilans sejak karhutla meningkat pada Juli.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 12.600 kasus terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Sementara itu, 38.291 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Andi menjelaskan, peningkatan ISPA tidak hanya terjadi di wilayah dengan indeks standar pencemar udara (ISPU) tinggi atau lokasi yang memiliki titik api.
Asap karhutla dapat terbawa angin ke wilayah lain. Karena itu, masyarakat di daerah yang tidak memiliki titik api tetap dapat mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu memperkuat pemantauan kualitas udara sekaligus mempercepat respons kesehatan di wilayah yang berpotensi terdampak asap karhutla. (ys*)









