BGN Jelaskan Alasan Siswa Dilibatkan dalam MBG Prasmanan, Sekolah Harus Siap

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (tengah) didampingi Wakil Kepala BGN Trenggono (kiri) dan Agustina Arumsari (kanan) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Dalam rapat tersebut BGN mengajukan anggaran sebesar Rp232,5 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027 dari total keseluruhan pagu anggaran sebesar Rp240,2 triliun. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj.(Rivan Awal Lingga)

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (tengah) didampingi Wakil Kepala BGN Trenggono (kiri) dan Agustina Arumsari (kanan) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Dalam rapat tersebut BGN mengajukan anggaran sebesar Rp232,5 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027 dari total keseluruhan pagu anggaran sebesar Rp240,2 triliun. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj.(Rivan Awal Lingga)

Jakarta, APGtimes.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menanggapi kritik warganet terhadap pelibatan siswa dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan. Ia menilai kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi anak-anak.

Perdebatan di media sosial muncul setelah sejumlah pihak mempertanyakan keterlibatan siswa dalam kegiatan setelah makan, termasuk membersihkan wadah makanan atau ompreng.

Sudaryono membandingkan kritik tersebut dengan respons warganet terhadap pelaksanaan program makan di China. Menurutnya, sebagian masyarakat justru memuji ketika melihat siswa di negara tersebut mencuci wadah makanan mereka sendiri.

Pernyataan itu ia sampaikan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Sudaryono Nilai Kegiatan Siswa sebagai Edukasi

Sudaryono menilai keterlibatan siswa dalam kegiatan pendukung program makan di sekolah tidak selalu harus dipandang sebagai beban. Kegiatan tersebut, menurutnya, dapat membantu membentuk kebiasaan bertanggung jawab dan menjaga kebersihan.

Ia juga menyoroti perbedaan respons masyarakat terhadap praktik serupa di negara lain dan di Indonesia. Sudaryono berharap masyarakat melihat tujuan pendidikan di balik kegiatan tersebut.

Baca Juga :  Tito Karnavian Soroti Honorer Datang Jam 8 Pulang Jam 10, Kepala Daerah Diminta Stop Rekrutmen

Meski demikian, pelibatan siswa tetap perlu mempertimbangkan usia, kemampuan, serta keselamatan mereka. Sekolah juga perlu memastikan kegiatan kebersihan berlangsung secara higienis dan tidak mengganggu proses pembelajaran.

BGN Mengadaptasi Sistem Prasmanan dari Negara Lain

Sudaryono menjelaskan bahwa penerapan MBG dengan sistem prasmanan merupakan bentuk pembelajaran dari praktik yang telah berjalan di sejumlah negara.

BGN mempelajari pengalaman tersebut, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan pelaksanaan program di Indonesia. Ia menilai langkah ini dapat mempercepat pengembangan sistem karena sudah tersedia contoh penerapan yang berhasil.

Sistem prasmanan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan. Jika persediaan masih tersedia dan aturan pembagian memungkinkan, siswa dapat menambah porsi.

Namun, penyelenggara tetap perlu mengatur alur pengambilan makanan agar kegiatan berjalan tertib. Pengelola juga harus menjaga kebersihan makanan serta memastikan seluruh siswa mendapatkan kesempatan yang sama.

Penerapan MBG Prasmanan Bergantung pada Kesiapan Sekolah

Sudaryono menegaskan bahwa BGN tidak bisa menerapkan sistem prasmanan di seluruh sekolah tanpa mempertimbangkan kesiapan pihak terkait.

Baca Juga :  BGN Setop MBG Saat Libur Sekolah, Dapur Gizi Akan Diberi Peringkat

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pihak sekolah perlu menyetujui pelaksanaan sistem tersebut. Sebab, metode prasmanan membutuhkan pengaturan tambahan dibandingkan distribusi makanan yang biasa dilakukan.

SPPG harus memastikan kesiapan dapur, tenaga kerja, dan mekanisme pelayanan. Sementara itu, sekolah perlu mengatur tempat penyajian, alur siswa mengambil makanan, serta pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Kesiapan Operasional Jadi Pertimbangan BGN

Sudaryono mengakui sistem prasmanan dapat menambah pekerjaan bagi pengelola dapur maupun sekolah. Penyedia makanan harus menyesuaikan pelayanan karena makanan disajikan langsung di lingkungan sekolah, bukan hanya disiapkan untuk distribusi dari fasilitas SPPG.

Karena itu, BGN perlu mempertimbangkan kemampuan setiap sekolah dan penyedia layanan sebelum memperluas penerapan sistem tersebut.

Selain kesiapan tenaga kerja dan fasilitas, standar keamanan pangan juga menjadi perhatian penting. Setiap kegiatan yang melibatkan siswa harus memiliki aturan yang jelas agar tujuan edukasi tetap sejalan dengan keselamatan dan kenyamanan anak.

Dengan mempertimbangkan kesiapan setiap pihak, penerapan MBG prasmanan diharapkan dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendukung kebiasaan positif di lingkungan sekolah. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Berita Terbaru

Salah satu dapur MBG

Ekonomi & Bisnis

7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:04 WIB