Jakarta, APGtimes.com – Densus 88 Antiteror Polri mengungkap perubahan strategi kelompok radikal dalam mencari anggota baru. Kini, mereka memanfaatkan media sosial untuk menyasar generasi muda yang aktif di ruang digital.
Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengatakan pelajar, remaja, dan anak-anak menjadi target utama karena termasuk generasi digital native. Kelompok radikal memanfaatkan kebiasaan mereka yang menghabiskan banyak waktu di internet.
Media Sosial Jadi Sarana Rekrutmen
Mayndra menjelaskan kelompok radikal menggunakan berbagai platform digital untuk menyebarkan propaganda. Mereka memanfaatkan algoritma media sosial agar konten ekstrem terus muncul di beranda pengguna.
Menurutnya, sistem algoritma membuat pengguna lebih sering melihat konten yang sesuai dengan riwayat pencarian dan aktivitas mereka. Akibatnya, paparan terhadap paham radikal dapat meningkat tanpa disadari.
“Densus 88 mendeteksi adanya perubahan pola rekrutmen. Kelompok radikal kini memanfaatkan platform digital yang digunakan pelajar, remaja, dan anak-anak,” ujar Mayndra saat peluncuran buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta, Rabu (30/7/2026).
Fenomena Echo Chamber Jadi Ancaman
Mayndra menilai algoritma media sosial juga memunculkan fenomena echo chamber. Kondisi ini membuat pengguna terus menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya.
Akibatnya, pengguna semakin sulit menemukan sudut pandang lain. Mereka pun lebih mudah menganggap informasi yang diterima sebagai kebenaran mutlak.
Menurut Mayndra, kelompok radikal memanfaatkan kondisi tersebut untuk memengaruhi pola pikir generasi muda secara bertahap.
Densus 88 Perkuat Pencegahan
Densus 88 terus memperkuat kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Kedua pihak juga menggandeng sejumlah instansi lain untuk menekan penyebaran konten ekstremisme.
Selain melakukan penindakan, Densus 88 memperluas edukasi kepada masyarakat. Langkah itu bertujuan meningkatkan literasi digital agar generasi muda mampu mengenali dan menolak propaganda radikal.
Mayndra menegaskan perlindungan terhadap anak-anak dan remaja di ruang digital menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan nasional. Ia berharap upaya pencegahan mampu mengurangi penyebaran paham ekstremisme melalui media sosial. (ys*)









