Berlin, APGtimes.com – Google kembali menunjukkan keseriusannya mengembangkan teknologi energi bersih dengan berinvestasi pada startup fusi nuklir asal Jerman, Proxima Fusion. Perusahaan tersebut berhasil mengumpulkan pendanaan senilai 411 juta euro atau sekitar Rp7,9 triliun untuk mempercepat pengembangan pembangkit listrik fusi komersial pertama di Eropa.
Putaran pendanaan itu dipimpin oleh XTX Ventures dan East X Ventures. Google serta perusahaan energi Jerman RWE ikut berpartisipasi sebagai investor strategis. Suntikan modal tersebut juga mendorong valuasi Proxima Fusion mencapai sekitar 2,7 miliar dolar AS.
Perusahaan akan memanfaatkan dana baru itu untuk mempercepat riset, meningkatkan kemampuan produksi, serta memperluas fasilitas manufaktur yang mendukung pengembangan teknologi fusi nuklir.
Proxima Fusion Andalkan Teknologi Stellarator
Proxima Fusion mengembangkan reaktor fusi dengan teknologi stellarator. Teknologi ini menghasilkan energi melalui penggabungan atom hidrogen menjadi helium.
Proses tersebut berbeda dengan pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi saat ini. Reaktor konvensional memanfaatkan proses fisi atau pemecahan atom, sedangkan teknologi fusi menghasilkan energi tanpa emisi karbon saat pembangkit beroperasi.
Para peneliti menilai energi fusi memiliki potensi menjadi sumber listrik masa depan karena mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan tingkat keselamatan yang lebih tinggi.
Eropa Ingin Salip Amerika Serikat dan China
Chief Executive Officer Proxima Fusion, Francesco Sciortino, mengatakan Eropa sedang berlomba dengan Amerika Serikat dan China dalam mengembangkan pembangkit listrik fusi komersial.
Menurutnya, tambahan investasi akan mempercepat pengembangan teknologi sekaligus memperkuat posisi Eropa dalam persaingan energi masa depan.
Perusahaan menargetkan reaktor demonstrasi mulai beroperasi pada awal dekade 2030-an. Setelah tahap tersebut selesai, Proxima Fusion berharap dapat menghadirkan pembangkit listrik fusi komersial pertama di Eropa pada akhir 2030-an.
Selain membangun reaktor, perusahaan juga akan meningkatkan produksi kabel dan magnet superkonduktor suhu tinggi atau High Temperature Superconductor (HTS). Komponen tersebut menjadi bagian penting dalam pengoperasian reaktor fusi.
Google Terus Dukung Pengembangan Energi Masa Depan
Investasi di Proxima Fusion bukan langkah pertama Google di sektor energi fusi. Sebelumnya, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu juga menanamkan modal pada startup Commonwealth Fusion Systems.
Google bahkan telah menyepakati pembelian listrik dari perusahaan tersebut apabila pembangkit listrik komersialnya mulai beroperasi.
Di sisi lain, startup asal Amerika Serikat, Helion Energy, juga terus menarik investasi besar dari berbagai pihak, termasuk Sam Altman.
Google menilai teknologi fusi berpotensi menyediakan listrik dalam jumlah besar tanpa menghasilkan emisi karbon. Namun, perusahaan mengakui pengembangan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan besar sebelum benar-benar memasuki tahap komersial. (de*)









