Israel Perluas Serangan Darat ke Lebanon, Dunia Internasional Ramai-Ramai Mengecam

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar dari video militer Israel memperlihatkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghancurkan infrastruktur Hizbullah di Lebanon pada 27 April 2026, di tengah masa gencatan senjata kedua kubu.(MILITER ISRAEL via AFP)

Tangkapan layar dari video militer Israel memperlihatkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghancurkan infrastruktur Hizbullah di Lebanon pada 27 April 2026, di tengah masa gencatan senjata kedua kubu.(MILITER ISRAEL via AFP)

Beirut, APGtimes.com — Gelombang kecaman internasional mengarah ke Israel setelah militer negara itu memperluas operasi darat di Lebanon selatan. Langkah tersebut memicu ketegangan baru meski Israel dan Lebanon sebelumnya sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari.

Militer Israel mengonfirmasi pasukannya mulai memperluas operasi ofensif di sejumlah wilayah strategis Lebanon selatan.

Dalam pernyataan resmi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut operasi tersebut bertujuan memperkuat garis pertahanan dan memperluas kendali di wilayah perbatasan.

Pasukan Israel bahkan dilaporkan menyeberangi Sungai Litani dan menguasai Kastil Beaufort, salah satu titik strategis bersejarah di Lebanon selatan.

Lebanon Tuduh Israel Terapkan Kebijakan Bumi Hangus

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam keras operasi militer terbaru Israel.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Salam menuduh Israel menjalankan kebijakan “bumi hangus” di wilayah selatan Lebanon.

Menurutnya, serangan tersebut hanya akan memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

“Kami menghadapi eskalasi yang sangat berbahaya. Langkah ini tidak akan membawa keamanan maupun stabilitas bagi Israel,” tegas Salam.

Baca Juga :  Pakar Siber Bongkar Sistem Pengawasan China, Aktivitas Warga Bisa Dilacak 24 Jam

Ia juga mendesak semua pihak segera mendorong gencatan senjata yang nyata untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.

Prancis Minta Dewan Keamanan PBB Bertindak

Presiden Prancis Emmanuel Macron ikut menyuarakan keprihatinan atas memburuknya situasi di Lebanon.

Macron menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan eskalasi militer besar-besaran yang kini terjadi di kawasan tersebut.

Ia menegaskan Prancis akan terus mendukung pemerintah Lebanon dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.

Setelah berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin Timur Tengah, Macron meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera membahas krisis tersebut.

Atas permintaan Prancis, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas perkembangan terbaru di Lebanon.

Jerman dan Inggris Ikut Mengecam

Kecaman juga datang dari Jerman. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul memperingatkan bahwa perluasan operasi darat Israel berpotensi memicu krisis kemanusiaan baru.

Ia menilai eskalasi konflik dapat memperparah situasi yang sudah tegang dan memicu gelombang pengungsian di Lebanon.

Baca Juga :  Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan

Pemerintah Inggris juga menyampaikan kekhawatiran serupa.

Menteri Inggris untuk Asia Barat dan Afrika Utara Hamish Falconer menilai konflik yang terus meluas berisiko merusak berbagai upaya diplomasi yang selama ini berjalan.

Ia meminta Israel menghentikan perluasan operasi militernya dan mendorong semua pihak mematuhi kesepakatan internasional.

Qatar Desak Intervensi Global

Pemerintah Qatar turut mengecam serangan Israel dan perluasan operasi darat di Lebanon selatan.

Kementerian Luar Negeri Qatar mendesak komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk menghentikan eskalasi konflik.

Qatar juga meminta organisasi internasional meningkatkan tekanan diplomatik agar seluruh pihak mematuhi hukum internasional dan menjaga stabilitas kawasan.

Ketegangan terbaru ini muncul di tengah harapan dunia internasional terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, perluasan operasi militer Israel justru memunculkan kekhawatiran baru akan pecahnya konflik yang lebih besar di Timur Tengah. (da*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru
Kim Yo Jong Kritik ASEAN, Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Usulan Dwi Kewarganegaraan Indonesia Jadi Sorotan
Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Tetapkan Hari Libur Nasional
NORAD Perketat Ruang Udara New York Jelang Final Argentina vs Spanyol di Piala Dunia 2026
Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan
Filipina Murka! Video AI China Daily yang Gambarkan Warganya sebagai Monyet Picu Kecaman Keras
Australia Belajar Toleransi dari Indonesia, Pejabat Negeri Kanguru Kunjungi Masjid Istiqlal
Australia Resmi Larang Penjualan Daun Kelor, Petani Protes dan Ajukan Banding ke Pemerintah
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:09 WIB

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:09 WIB

Kim Yo Jong Kritik ASEAN, Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Usulan Dwi Kewarganegaraan Indonesia Jadi Sorotan

Senin, 20 Juli 2026 - 16:09 WIB

Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Tetapkan Hari Libur Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:09 WIB

NORAD Perketat Ruang Udara New York Jelang Final Argentina vs Spanyol di Piala Dunia 2026

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:09 WIB

Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Internasional

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Jul 2026 - 22:09 WIB