Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan profesor asal Malaysia, Solehah Yaacob, dipecat setelah sejumlah klaimnya mengenai peradaban Melayu kuno menuai kritik dari sejarawan serta akademisi.(DOK. Free Malaysia Today)

Mantan profesor asal Malaysia, Solehah Yaacob, dipecat setelah sejumlah klaimnya mengenai peradaban Melayu kuno menuai kritik dari sejarawan serta akademisi.(DOK. Free Malaysia Today)

Kuala Lumpur, APGtimes.com – International Islamic University Malaysia (IIUM) memberhentikan Solehah Yaacob dari layanan akademik setelah sejumlah klaimnya tentang peradaban Melayu kuno menuai kritik dari sejarawan dan akademisi.

Salah satu pernyataan Solehah yang paling kontroversial menyebut orang Melayu pada zaman dahulu mampu terbang. Ia juga mengklaim orang Melayu mengajarkan teknik “kung fu terbang” kepada masyarakat China.

IIUM kemudian menegaskan bahwa Solehah tidak lagi memiliki hubungan resmi dengan universitas tersebut. Kampus juga melarang mantan profesor itu menggunakan jabatan, gelar, maupun afiliasi IIUM.

IIUM Tegaskan Solehah Bukan Lagi Profesor

Kantor Komunikasi Advokasi dan Promosi IIUM menyampaikan keputusan tersebut pada Minggu (23/8/2026). Universitas mengatakan telah memberhentikan Solehah dari layanan akademik pada 27 April 2026.

“Dia bukan lagi profesor dan tidak berhak mengklaim hubungan apa pun dengan universitas,” kata IIUM dalam pernyataannya, seperti dikutip South China Morning Post.

Namun, Solehah menolak keputusan tersebut. Ia membawa persoalan pemecatannya ke pengadilan Malaysia dan menilai IIUM tidak menjalankan proses pemberhentian secara profesional.

Dalam wawancara dengan Free Malaysia Today, Solehah mengungkapkan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia sempat memberikan penghargaan Malaysia Research Assessment kepadanya sehari sebelum universitas memberhentikannya.

Baca Juga :  BBM Langka, Iran Pangkas Jam Kerja Kantor Jadi 5 Jam dan Perluas WFH

“Saya diberhentikan dalam waktu 24 jam dan tidak diperbolehkan mengajukan banding,” ujar Solehah.

Ia juga mengatakan IIUM sempat menawarkan kompensasi yang setara dengan gaji enam bulan. Namun, Solehah menolak tawaran tersebut.

Klaim Sejarah Solehah Menuai Kritik

Selain klaim tentang kemampuan terbang orang Melayu, Solehah juga menyampaikan sejumlah teori lain mengenai sejarah Asia dan peradaban Melayu.

Ia pernah menyatakan bahwa bangsa Romawi kuno mempelajari teknik pembuatan kapal dari pelaut Melayu. Pada awal Agustus, ia juga menduga kekayaan bijih besi di Kedah berasal dari hujan meteor.

Solehah menyebut Gunung Jerai di Kedah sebagai salah satu lokasi yang menurutnya pernah terkena hantaman meteor.

Ia juga mengaitkan Khadijah, istri Nabi Muhammad, dengan dunia Melayu. Selain itu, Solehah mengkritik masyarakat Melayu awal karena pengaruh Hindu-Buddha yang berkembang di kawasan tersebut.

Kontroversi lain muncul dari artikel akademik Solehah pada 2018. Publik menemukan bahwa artikel tersebut menggunakan tulisan satir dari media Amerika Serikat, The Onion, sebagai salah satu sumber.

Berbagai klaim tersebut kemudian mendapat kritik dari sejumlah sejarawan dan akademisi. Mereka menilai sejumlah pernyataan Solehah tidak memiliki dasar yang kuat dan dapat memengaruhi pemahaman masyarakat mengenai sejarah.

Baca Juga :  Macron Tegaskan Sikap Tegas Usai Demo Ricuh di Prancis, Pelaku Penjarahan Bakal Ditindak

Akademisi Soroti Aktivitas di Luar Kampus

James Chin, akademisi kajian Asia dari University of Tasmania, turut menyoroti aktivitas Solehah di luar lingkungan kampus.

Menurut Chin, Solehah memimpin tur kapal pesiar berbayar yang menggunakan teori-teori sejarahnya sebagai materi utama. Pelayaran selama empat hari tiga malam itu dijadwalkan berlangsung dari Port Klang menuju Phuket pada 30 November hingga 3 Desember.

Dalam perjalanan tersebut, Solehah dijadwalkan menyampaikan pidato bertajuk “The Mystery of the Roman Ship Deception” atau “Misteri Tipu Daya Kapal Romawi” di atas kapal Adora Mediterranea.

Chin mengatakan penyelenggara merancang pelayaran itu untuk membawa peserta ke sejumlah lokasi yang menurut Solehah dapat mendukung teori penelitiannya.

Ia menilai Solehah telah menyampaikan berbagai klaim serupa selama bertahun-tahun. Namun, kontroversi semakin besar setelah pernyataannya menyebar luas di media sosial.

“Sungguh luar biasa bahwa IIUM mengambil tindakan sebagai respons terhadap reaksi keras di media sosial,” ujar Chin kepada This Week in Asia.

Menurut Chin, kasus tersebut juga menunjukkan pentingnya tanggung jawab universitas dalam mengawasi aktivitas akademisi dan menjaga standar keilmuan. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral
Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia
Macron Tegaskan Sikap Tegas Usai Demo Ricuh di Prancis, Pelaku Penjarahan Bakal Ditindak
Demo Ricuh di Perancis dan Italia, Kemlu Imbau WNI Waspadai Situasi Keamanan
Putin Setujui Usulan Perombakan Kabinet Rusia, Menteri Keuangan Diusulkan Jadi Wakil PM
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB