Jepang Resmi Siapkan Pajak Makanan 1 Persen, Warga Dapat Keringanan Besar Mulai 2027

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi vending machine di Jepang.(Dok. Unsplash/catrina farrell)

Ilustrasi vending machine di Jepang.(Dok. Unsplash/catrina farrell)

Jakarta, APGtimes.com – Pemerintah Jepang berencana memangkas pajak konsumsi makanan dari 8 persen menjadi 1 persen selama dua tahun mulai April 2027. Pemerintah mengambil langkah ini untuk meringankan beban masyarakat yang menghadapi kenaikan biaya hidup sekaligus menjaga daya beli.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan pemerintah akan membawa kebijakan tersebut ke rapat kabinet pada awal Agustus 2026. Selanjutnya, pemerintah akan menyusun reformasi perpajakan pada September sebelum mengajukan rancangan undang-undang ke parlemen pada sidang luar biasa musim gugur.

Takaichi menegaskan pemerintah memprioritaskan upaya menekan beban masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, pajak, dan premi jaminan sosial. Karena itu, pemerintah memilih skema pemotongan pajak sebagai solusi yang dinilai paling efektif.

Pajak Makanan Turun Selama Dua Tahun

Pemerintah Jepang akan memberlakukan tarif pajak konsumsi makanan sebesar 1 persen mulai April 2027 hingga Maret 2029. Setelah masa tersebut berakhir, tarif akan kembali ke level 8 persen.

Baca Juga :  Kapal Maersk Keluar Selat Hormuz dengan Pengawalan AS, Ini Fakta Lengkapnya

Takaichi memastikan pemerintah akan mengembalikan tarif ke angka semula sesuai jadwal. Selain itu, ia menolak usulan yang membuka peluang memperpanjang masa pemotongan pajak apabila kondisi ekonomi belum pulih.

Jika terlaksana, kebijakan ini menjadi penurunan pajak konsumsi pertama sejak Jepang menerapkan sistem pajak tersebut pada 1989.

Pemerintah Siapkan Anggaran Rp561 Triliun

Pemerintah memperkirakan program ini membutuhkan anggaran sekitar 5 triliun yen atau setara Rp561 triliun setiap tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, pemerintah akan meninjau kembali berbagai subsidi, menyesuaikan kebijakan perpajakan, memanfaatkan penerimaan nonpajak, serta membatasi anggaran tambahan hanya untuk program yang benar-benar mendesak.

Baca Juga :  Ini Alasan warga Amerika Berbondong Jual Emas

Di sisi lain, Takaichi menegaskan pemerintah tidak akan menerbitkan obligasi baru karena ingin menjaga stabilitas fiskal dan menghindari kenaikan utang negara.

Usulan Masih Menuai Perdebatan

Meski mendapat dukungan dari sebagian partai koalisi, rencana pemotongan pajak masih memicu perdebatan di parlemen.

Sejumlah anggota Partai Demokrat Liberal (LDP) menilai perubahan tarif dalam waktu singkat dapat mengganggu aktivitas ekonomi. Namun, pimpinan LDP bersama Partai Inovasi Jepang tetap melanjutkan pembahasan agar kebijakan segera terealisasi.

Sementara itu, Takaichi juga menolak usulan bantuan tunai dari partai oposisi. Menurutnya, pemotongan pajak memberikan manfaat lebih cepat karena masyarakat langsung menikmati harga kebutuhan pokok yang lebih murah saat berbelanja. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gedung Putih Bongkar Dugaan Asal-usul Covid-19, Sebut Berasal dari Laboratorium Wuhan
FIFA Mau Jual Saham Piala Dunia? UEFA Langsung Bereaksi Keras
Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru
Kim Yo Jong Kritik ASEAN, Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Usulan Dwi Kewarganegaraan Indonesia Jadi Sorotan
Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Tetapkan Hari Libur Nasional
NORAD Perketat Ruang Udara New York Jelang Final Argentina vs Spanyol di Piala Dunia 2026
Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan
Filipina Murka! Video AI China Daily yang Gambarkan Warganya sebagai Monyet Picu Kecaman Keras
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:09 WIB

Jepang Resmi Siapkan Pajak Makanan 1 Persen, Warga Dapat Keringanan Besar Mulai 2027

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:09 WIB

Gedung Putih Bongkar Dugaan Asal-usul Covid-19, Sebut Berasal dari Laboratorium Wuhan

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:09 WIB

FIFA Mau Jual Saham Piala Dunia? UEFA Langsung Bereaksi Keras

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:09 WIB

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:09 WIB

Kim Yo Jong Kritik ASEAN, Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Usulan Dwi Kewarganegaraan Indonesia Jadi Sorotan

Berita Terbaru