Pekanbaru, APGtimes.com – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, pada Selasa (29/9/2026) pagi. Asap membuat jarak pandang menurun dan kondisi udara terlihat keruh.
BMKG menyebut kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan karhutla di Riau. Asap dari sejumlah wilayah di Pulau Sumatera ikut bergerak menuju Riau mengikuti arah angin.
Asap Bergerak Mengikuti Arah Angin
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Indah DN, mengatakan asap datang dari beberapa wilayah yang sedang mengalami karhutla.
Wilayah tersebut mencakup Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Angin kemudian membawa asap dari wilayah-wilayah itu menuju kawasan lain, termasuk Pekanbaru.
“Sebaran asap masih terlihat di Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan,” kata Indah.
BMKG mencatat angin bergerak dari arah timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara. Pola tersebut memungkinkan asap dari wilayah selatan dan timur Sumatera bergerak ke Riau.
Kondisi serupa juga pernah terjadi ketika asap dari Sumatera Selatan dan Jambi bergerak menuju Riau akibat perubahan pola angin.
1.160 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera
Selain memantau pergerakan asap, BMKG juga mencatat tingginya aktivitas titik panas di Pulau Sumatera.
Data yang diperbarui pada Selasa (29/9/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan 1.160 titik panas tersebar di Sumatera. Sumatera Selatan mencatat jumlah tertinggi dengan 683 titik.
Jambi berada di urutan berikutnya dengan 217 titik panas. Sementara itu, Bangka Belitung mencatat 134 titik.
Riau sendiri memiliki 12 titik panas yang tersebar di lima kabupaten. Rinciannya sebagai berikut:
- Kuantan Singingi: 2 titik
- Pelalawan: 3 titik
- Rokan Hulu: 2 titik
- Siak: 2 titik
- Indragiri Hulu: 3 titik
Dengan jumlah tersebut, Riau menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan titik panas yang terpantau di Sumatera pada pagi itu.
Kabut Asap Masih Perlu Diwaspadai
Pergerakan asap lintas wilayah membuat kondisi udara di Pekanbaru perlu mendapat perhatian. Data pemantauan pada pagi hari juga menunjukkan kualitas udara dapat memburuk ketika konsentrasi partikel asap meningkat.
BMKG menyediakan pemantauan kualitas udara, PM2.5, sebaran asap, serta titik panas untuk membantu masyarakat mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.
Di tengah kondisi kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera, BMKG juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla. Kondisi kering dapat meningkatkan risiko munculnya titik panas dan memperluas dampak asap ke wilayah lain. (aw*)









