Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026). Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di level Rp17.958 per dollar AS.
Posisi tersebut turun 55 poin atau 0,31 persen dari perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.902 per dollar AS.
Pergerakan rupiah berlangsung saat pelaku pasar kembali mencermati arah dollar AS dan kebijakan suku bunga global.
Mata Uang Asia Mayoritas Melemah
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi pada sebagian besar mata uang Asia.
Won Korea Selatan melemah 0,52 persen ke level 1.361,07 per dollar AS. Baht Thailand turun 0,40 persen menjadi 33,52 per dollar AS.
Yen Jepang melemah 0,30 persen ke level 157,75 per dollar AS. Yuan China turun tipis 0,03 persen menjadi 6,7155 per dollar AS.
Dollar Hong Kong melemah 0,30 persen ke level 20,1101 per dollar AS. Sementara itu, dollar Taiwan turun 0,18 persen menjadi 31,8110 per dollar AS.
Di Asia Tenggara, ringgit Malaysia turun 0,15 persen menjadi 4,0802 per dollar AS. Peso Filipina juga melemah 0,05 persen ke level 62,5070 per dollar AS.
Di tengah tekanan tersebut, rupee India justru menguat 0,15 persen terhadap dollar AS.
Imbal Hasil Treasury Jadi Perhatian
Pergerakan mata uang regional terjadi setelah pasar mencermati penguatan dollar AS serta prospek kebijakan suku bunga bank sentral global.
Kenaikan imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi suku bunga AS yang bertahan pada level tinggi turut memberikan tekanan terhadap rupiah dan sejumlah mata uang regional.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada sejumlah faktor. Arah dollar AS, kebijakan Federal Reserve, imbal hasil surat utang AS, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik global menjadi faktor yang akan terus dicermati pelaku pasar. (aw*)









