S&P Prediksi Utang Pemerintah Indonesia Terus Naik hingga 2029, Ini Penyebabnya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Jakarta, APGtimes.com – S&P Global Ratings memproyeksikan utang pemerintah Indonesia masih akan meningkat hingga 2029. Meski demikian, lembaga pemeringkat internasional itu menilai pemerintah tetap mampu menjaga disiplin fiskal sehingga kondisi keuangan negara masih relatif stabil.

Dalam laporan terbarunya, S&P memperkirakan utang pemerintah bertambah rata-rata 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahun sepanjang periode 2026 hingga 2029.

Perhitungan tersebut menunjukkan rasio utang pemerintah berpotensi mencapai 37,4 persen terhadap PDB pada akhir 2029. Sebagai perbandingan, rasio utang tercatat sebesar 36,4 persen terhadap PDB pada 2024.

Pemerintah Masih Menghadapi Beban Bunga Utang

S&P menilai pemerintah masih menghadapi tekanan dari tingginya pembayaran bunga utang. Lembaga itu memperkirakan rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara tetap berada di atas 15 persen selama 2026 hingga 2027.

Namun, S&P meyakini penurunan suku bunga dan kenaikan pendapatan negara akan mengurangi tekanan tersebut dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.922 per Dollar AS, Pasar Sambut Positif Efisiensi Anggaran MBG

Menurut S&P, lonjakan utang selama pandemi Covid-19 ikut mendorong kenaikan beban pembayaran bunga. Selain itu, pertumbuhan pendapatan negara yang melambat dalam dua tahun terakhir ikut memperberat kondisi fiskal.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah juga meningkatkan tekanan terhadap pengelolaan utang negara.

Pemerintah Terus Menjaga Defisit Fiskal

S&P memperkirakan pemerintah mampu menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah 3 persen dari PDB pada 2026.

Pemerintah juga terus menegaskan komitmennya untuk mempertahankan batas defisit sesuai aturan yang berlaku. Langkah tersebut memperkuat kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal Indonesia.

Selain itu, konsistensi pemerintah dalam mengelola APBN menjadi salah satu faktor yang menjaga peringkat kredit Indonesia tetap stabil.

Sumber Daya Alam Berpotensi Menambah Pendapatan Negara

S&P melihat peluang peningkatan pendapatan negara dari sektor sumber daya alam dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.827 Usai Pidato Prabowo, Pekan Depan Bisa ke Rp17.700

Permintaan global terhadap batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan nikel masih berpotensi mendorong investasi sekaligus meningkatkan penerimaan negara.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan di sektor mineral dan sumber daya alam. Pemerintah juga menyesuaikan tarif royalti, mengatur kuota produksi, serta membentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) untuk mendukung peningkatan penerimaan negara.

S&P Soroti Tantangan Implementasi Kebijakan

Meski memberikan prospek positif, S&P tetap mengingatkan pemerintah agar mempercepat pelaksanaan berbagai kebijakan baru.

Lembaga tersebut menilai kesiapan sistem, proses administrasi, dan koordinasi antarlembaga akan menentukan keberhasilan setiap program.

S&P memperkirakan tantangan implementasi akan mencapai puncaknya dalam enam hingga dua belas bulan mendatang.

Meski begitu, pemerintah memiliki peluang memperkuat kondisi fiskal apabila mampu meningkatkan pendapatan negara secara berkelanjutan dan menjaga disiplin anggaran. Langkah tersebut juga dapat memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cek Harga BBM Pertamina Hari Ini 18 Agustus 2026 di Semua Wilayah
Dollar AS Tertekan, Harga Emas Dunia Naik 0,9 Persen
Mulai Oktober 2026, QRIS Bebas Biaya untuk Semua Merchant hingga Rp100.000
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 17 Agustus 2026 Stabil, 1 Gram Rp2,782 Juta
Anggaran Ketahanan Pangan 2027 Capai Rp195,3 Triliun, Naik 2,3 Persen
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp37.000, Cek Daftar Terbarunya
Rupiah Menguat ke Rp17.827 Usai Pidato Prabowo, Pekan Depan Bisa ke Rp17.700
Bank Danamon Ungkap Kunci Ekonomi RI Tembus 6 Persen: Investasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 16:09 WIB

Cek Harga BBM Pertamina Hari Ini 18 Agustus 2026 di Semua Wilayah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Dollar AS Tertekan, Harga Emas Dunia Naik 0,9 Persen

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Mulai Oktober 2026, QRIS Bebas Biaya untuk Semua Merchant hingga Rp100.000

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:09 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 17 Agustus 2026 Stabil, 1 Gram Rp2,782 Juta

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Anggaran Ketahanan Pangan 2027 Capai Rp195,3 Triliun, Naik 2,3 Persen

Berita Terbaru

Gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang kawasan Mbay-Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) subuh.(Kontributor Kompas.com Labuan Bajo/Vera Bahali)

Nasional

Gempa M 7,7 Guncang Flores, 7 Korban Dievakuasi ke Labuan Bajo

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:09 WIB

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax membuat stok BBM subsidi di sejumlah SPBU wilayah Kota Tangerang ludes lebih cepat dari biasanya.(Kompas.com/Disya Shaliha)

Ekonomi & Bisnis

Cek Harga BBM Pertamina Hari Ini 18 Agustus 2026 di Semua Wilayah

Selasa, 18 Agu 2026 - 16:09 WIB