ESDM Siapkan Bioetanol E20 2028, Tebu, Singkong Mukibat, dan Jagung Jadi Andalan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kulit singkong.(Chat GPT)

Ilustrasi kulit singkong.(Chat GPT)

Jakarta, APGtimes.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprioritaskan tebu, singkong mukibat, dan jagung sebagai bahan baku utama bioetanol untuk mendukung penerapan mandatori E20 pada 2028. Pemerintah menilai ketiga komoditas tersebut mampu memperkuat pasokan bioetanol sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

Program E20 sendiri mewajibkan pencampuran bioetanol sebesar 20 persen ke dalam bensin sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

ESDM Fokus Kembangkan Tiga Komoditas

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah tengah menyusun strategi untuk memastikan pasokan bahan baku mencukupi sebelum kebijakan E20 berlaku.

Menurutnya, pemerintah akan memulai pengembangan dari tiga komoditas utama, yaitu singkong mukibat, jagung, dan tebu.

Eniya menjelaskan singkong mukibat menjadi pilihan karena memiliki kandungan pati yang tinggi. Selain itu, varietas tersebut memiliki rasa lebih pahit sehingga tidak banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Baca Juga :  B50 Resmi Berlaku Mulai Hari Ini, Kenali Kelebihan dan Risiko untuk Kendaraan Diesel

“Varietas mukibat memiliki pati cukup besar dan tidak berbenturan dengan kebutuhan pangan karena rasanya lebih pahit,” kata Eniya di sela Pekan Riset Sawit Indonesia di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Jagung dan Tebu Jadi Sumber Bioetanol

Selain singkong, pemerintah juga akan memanfaatkan bonggol jagung sebagai bahan baku bioetanol. Sementara itu, industri gula berbahan baku tebu akan menghasilkan bioetanol melalui pemanfaatan molases atau tetes tebu.

Eniya mengatakan peningkatan produksi gula otomatis akan meningkatkan produksi bioetanol karena menghasilkan lebih banyak bahan baku turunan.

Ia juga menyebut peningkatan produksi jagung akan ikut memperbesar pasokan bioetanol nasional.

Pasokan Bahan Baku Jadi Tantangan

Kementerian ESDM menilai tantangan terbesar program bioetanol bukan berasal dari pembangunan pabrik, melainkan dari ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu

Eniya menjelaskan pembangunan pabrik bioetanol hanya memerlukan waktu sekitar satu setengah tahun. Namun, pemerintah harus memastikan pasokan bahan baku tetap tersedia dalam jangka panjang.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat sektor hulu agar target mandatori E20 dapat berjalan sesuai jadwal.

Pemerintah Siapkan Revisi Aturan dan Formula Harga

Pemerintah juga merevisi Peraturan Presiden Nomor 40 tentang swasembada gula dan penyediaan bioetanol. Revisi tersebut akan menambah kapasitas fasilitas pencampuran atau blending bioetanol.

Selain itu, Kementerian ESDM menyusun formula harga bioetanol berbahan baku jagung dan singkong. Saat ini, pemerintah baru menetapkan formula harga untuk bioetanol yang berasal dari molases tebu.

Eniya optimistis penyusunan formula harga tersebut dapat selesai dalam enam bulan sehingga implementasi program bioetanol nasional berjalan lebih optimal. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anggaran Ketahanan Pangan 2027 Capai Rp195,3 Triliun, Naik 2,3 Persen
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp37.000, Cek Daftar Terbarunya
Rupiah Menguat ke Rp17.827 Usai Pidato Prabowo, Pekan Depan Bisa ke Rp17.700
Bank Danamon Ungkap Kunci Ekonomi RI Tembus 6 Persen: Investasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja
Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik, Antam Tembus Rp2,8 Juta per Gram
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Lagi, 1 Gram Tembus Rp2,71 Juta
Harga BBM Pertamina Hari Ini 10 Agustus 2026, Pertamax dan Pertalite Segini
BPS Tegaskan Data Sensus Ekonomi 2026 Tidak Dipakai untuk Tarik Pajak
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp37.000, Cek Daftar Terbarunya

Jumat, 14 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.827 Usai Pidato Prabowo, Pekan Depan Bisa ke Rp17.700

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:09 WIB

Bank Danamon Ungkap Kunci Ekonomi RI Tembus 6 Persen: Investasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik, Antam Tembus Rp2,8 Juta per Gram

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Lagi, 1 Gram Tembus Rp2,71 Juta

Berita Terbaru

Ilustrasi Arktik (Kredit: Pixabay/CC0 Public Domain)

Internasional

China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik

Senin, 17 Agu 2026 - 15:09 WIB