DPR Minta Pemerintah Verifikasi 8 WNI yang Disebut Jadi Tentara Rusia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 4 September 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.(KOMPAS.com / IRFAN KAMIL)

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.(KOMPAS.com / IRFAN KAMIL)

Jakarta, APGtimes.com – Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta meminta pemerintah memastikan kebenaran informasi tentang delapan warga negara Indonesia (WNI) yang disebut bergabung dengan tentara Rusia.

Sukamta menilai pemerintah perlu memeriksa informasi tersebut sebelum mengambil kesimpulan hukum. Menurutnya, masyarakat tidak perlu terburu-buru membahas ancaman kehilangan kewarganegaraan.

“Sekarang sudah muncul istilah tentara bayaran, bahkan sudah mulai dibicarakan ancaman hukum dan kehilangan kewarganegaraan. Menurut saya jangan terlalu cepat ke sana. Perjelas dulu duduk beritanya,” ujar Sukamta kepada Kompas.com, Jumat (4/9/2026).

Pemerintah Diminta Periksa Identitas 8 WNI

Sukamta meminta pemerintah memastikan identitas delapan orang yang muncul dalam pemberitaan tersebut. Pemerintah juga perlu memastikan status kewarganegaraan mereka.

Selain itu, pemerintah perlu mencari tahu lokasi mereka saat ini. Pemerintah juga harus memastikan apakah mereka benar-benar bergabung dengan militer Rusia.

Proses keberangkatan mereka pun perlu ditelusuri. Pemerintah harus mencari tahu apakah mereka sejak awal mendaftar sebagai tentara atau mendapat tawaran pekerjaan lain.

Baca Juga :  DPR Resmi Tetapkan 9 Anggota KPI Pusat 2026-2029, Ini Daftar Lengkapnya

“Hal-hal mendasar seperti ini harus jelas dulu. Jangan sampai kita sudah sampai pada kesimpulan hukum, sementara faktanya sendiri masih kita cari,” kata Sukamta.

Informasi Perang Rusia-Ukraina Perlu Diverifikasi

Sukamta mengingatkan bahwa informasi tersebut muncul di tengah perang Rusia-Ukraina. Karena itu, pemerintah perlu memeriksa setiap informasi dengan hati-hati.

Terlebih lagi, informasi awal bisa saja berasal dari salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. Menurut Sukamta, pemerintah tetap dapat mendengarkan informasi tersebut, tetapi harus melakukan verifikasi secara mandiri.

“Informasi dari pihak yang sedang berperang tentu boleh kita dengarkan. Bisa saja informasinya benar. Tetapi tugas kita adalah memeriksanya sendiri. Indonesia harus punya penilaian berdasarkan informasi yang dapat kita verifikasi,” ujarnya.

Pemerintah Bisa Gunakan Jalur Diplomatik

Sukamta juga menilai banyaknya pemberitaan tidak otomatis membuat sebuah informasi menjadi terkonfirmasi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menggunakan berbagai saluran yang tersedia.

Baca Juga :  DPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Prabowo

Pemerintah dapat meminta informasi melalui Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia di luar negeri. Selain itu, lembaga intelijen serta instansi terkait juga dapat membantu proses verifikasi.

“Ini menyangkut warga negara kita. Pemerintah tentu punya saluran diplomatik dan intelijen untuk mengecek. Itu yang sebaiknya dilakukan sampai kita mendapatkan gambaran yang cukup jelas,” imbuh Sukamta.

Intelijen Ukraina Sebut Identitas 8 WNI

Sebelumnya, Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina (SZRU) merilis identitas delapan WNI yang disebut menjadi tentara Rusia.

Dalam laporan yang terbit pada 27 Agustus, SZRU menyatakan Rusia gencar merekrut warga asing untuk berperang melawan Ukraina.

Namun, Sukamta meminta pemerintah terlebih dahulu memeriksa informasi tersebut. Dengan demikian, pemerintah dapat mengambil langkah berdasarkan fakta yang telah terverifikasi. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Berita Terbaru

Salah satu dapur MBG

Ekonomi & Bisnis

7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:04 WIB