Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah menguat tipis pada akhir pekan perdagangan, Sabtu (6/6/2026), setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp18.036 per dollar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut menguat 13 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara itu, sejumlah platform perdagangan global mencatat pergerakan yang berbeda karena mengikuti transaksi pasar internasional yang masih berlangsung setelah pasar domestik tutup.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan kurs rupiah berada di level Rp18.039 per dollar AS pada Jumat dan relatif stabil dibandingkan hari sebelumnya.
Meski mencatat penguatan tipis, nilai tukar rupiah masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dollar AS.
BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pemerintah dan bank sentral terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Perry, sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci dalam menghadapi tekanan global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
Ia menegaskan koordinasi tersebut tidak hanya berfokus pada stabilitas ekonomi, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Koordinasi fiskal dan moneter terus kami perkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan,” ujar Perry.
Fokus Tarik Kembali Modal Asing
Pemerintah dan Bank Indonesia kini memprioritaskan dua langkah utama untuk memperkuat rupiah.
Langkah pertama yaitu meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar investor asing kembali menanamkan modal di Indonesia.
Menurut Perry, kenaikan suku bunga di sejumlah negara telah mendorong arus keluar modal dari pasar keuangan Indonesia.
Kondisi tersebut memengaruhi pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Karena itu, pemerintah dan BI berupaya menjaga tingkat imbal hasil atau yield agar tetap kompetitif di mata investor global.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap aliran modal asing dapat kembali masuk dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
Rupiah Masih Hadapi Tantangan Global
Meski menunjukkan penguatan, rupiah masih menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Tekanan berasal dari tingginya suku bunga global, ketidakpastian ekonomi dunia, serta meningkatnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan.
Faktor-faktor tersebut membuat pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tetap berada dalam tekanan.
Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan yang tersedia.
Selain itu, pemerintah dan BI berkomitmen menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia di tengah dinamika pasar global.








