Bank Dunia Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh 5 Persen Meski Dunia Dihantam Krisis Energi

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi(shutterstock.com)

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi(shutterstock.com)

Jakarta, APGtimes.com — Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026 meski ekonomi global menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi 2025 yang mencapai 5,1 persen.

Meski demikian, Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia kembali menguat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan bertahan pada level yang sama hingga 2028.

Proyeksi tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global yang semakin terasa sepanjang tahun ini.

Ekonomi Global Melambat Akibat Konflik Timur Tengah

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia turun dari 2,9 persen pada 2025 menjadi 2,5 persen pada 2026. Laju tersebut menjadi yang terendah sejak pandemi Covid-19.

Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama perlambatan ekonomi global. Gangguan jalur perdagangan internasional, terutama di kawasan Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi dan komoditas dunia.

Bank Dunia memperkirakan harga komoditas global naik 22 persen pada 2026. Angka ini berbalik dari proyeksi awal tahun yang memperkirakan penurunan sebesar 7 persen.

Baca Juga :  JPMorgan: Permintaan Minyak Dunia Turun 9 Persen, Konsumen Mulai Beralih ke Energi Alternatif

Sementara itu, harga minyak mentah Brent diperkirakan mencapai rata-rata 94 dollar AS per barel sepanjang 2026 atau naik 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Indonesia Tetap Stabil di Tengah Tekanan Global

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia tetap menjadi salah satu negara dengan prospek ekonomi yang relatif stabil di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Bank Dunia menilai konsumsi domestik Indonesia masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, aktivitas investasi dan perdagangan juga terus menunjukkan kinerja yang cukup baik.

Indonesia juga mendapat manfaat dari meningkatnya investasi global di sektor teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Bank Dunia mencatat Indonesia termasuk negara yang terhubung dengan rantai pasok semikonduktor dan teknologi digital yang berkembang pesat akibat meningkatnya investasi AI dunia.

Asia Timur dan Pasifik Ikut Melambat

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik turun dari 5 persen pada 2025 menjadi 4,2 persen pada 2026.

Perlambatan tersebut dipengaruhi konflik Timur Tengah serta melemahnya ekonomi China yang masih menghadapi rendahnya permintaan domestik dan perlambatan sektor properti.

Meski demikian, sejumlah negara di kawasan masih menikmati pertumbuhan ekspor berkat meningkatnya permintaan produk teknologi dan AI.

Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina menjadi negara yang memperoleh manfaat besar dari meningkatnya kebutuhan produk digital dan semikonduktor.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS, Investor Bereaksi Usai Perry Warjiyo Mundur

Harga Energi Jadi Tantangan Baru

Bank Dunia mengingatkan negara-negara Asia, termasuk Indonesia, tetap menghadapi risiko dari kenaikan harga energi dunia.

Pada awal konflik Timur Tengah, pasar keuangan di sejumlah negara sempat mengalami tekanan. Nilai tukar melemah, pasar saham terkoreksi, dan imbal hasil obligasi meningkat.

Indonesia termasuk salah satu negara yang mengalami kenaikan imbal hasil obligasi sebelum kondisi pasar kembali membaik setelah muncul kesepakatan gencatan senjata.

Kenaikan harga energi juga berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan memperketat kebijakan moneter di berbagai negara.

AI Jadi Peluang Pertumbuhan Baru

Di tengah berbagai tantangan global, Bank Dunia melihat perkembangan teknologi AI sebagai peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

Investasi AI diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas, memperluas perdagangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Bagi Indonesia, peluang tersebut dapat dimanfaatkan melalui penguatan infrastruktur digital, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan iklim investasi yang lebih kompetitif.

Dengan berbagai faktor tersebut, Bank Dunia tetap optimistis Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 5,2 persen pada dua tahun berikutnya. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Masih Tertekan, Cek Kurs Dollar AS di BCA, Mandiri, dan BNI Hari Ini
Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS, Investor Bereaksi Usai Perry Warjiyo Mundur
Zhafira Wedding Organizer Jadi Pilihan Calon Pengantin di Sungai Penuh dan Kerinci, Layanannya Lengkap
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp3.000, Cek Daftar Lengkap Harga 22 Juli 2026
ESDM Siapkan Bioetanol E20 2028, Tebu, Singkong Mukibat, dan Jagung Jadi Andalan
Harga Emas Antam Hari Ini 20 Juli 2026 Masih Stabil, Cek Daftar Lengkap di Pegadaian
Sopir Truk Mengantre Solar hingga 24 Jam, Pendapatan Tergerus dan Fisik Menurun
Harga Emas Antam Hari Ini 18 Juli 2026 Naik Rp8.000, Cek Daftar Lengkapnya
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Masih Tertekan, Cek Kurs Dollar AS di BCA, Mandiri, dan BNI Hari Ini

Senin, 27 Juli 2026 - 17:09 WIB

Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS, Investor Bereaksi Usai Perry Warjiyo Mundur

Senin, 27 Juli 2026 - 12:09 WIB

Zhafira Wedding Organizer Jadi Pilihan Calon Pengantin di Sungai Penuh dan Kerinci, Layanannya Lengkap

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp3.000, Cek Daftar Lengkap Harga 22 Juli 2026

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:09 WIB

ESDM Siapkan Bioetanol E20 2028, Tebu, Singkong Mukibat, dan Jagung Jadi Andalan

Berita Terbaru

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Internasional

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Jul 2026 - 22:09 WIB