Jakarta, APGtimes.com – Dana Moneter Internasional (IMF) menilai gencatan senjata di Timur Tengah dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kabar positif bagi perekonomian global. Namun, lembaga tersebut mengingatkan proses normalisasi belum akan berlangsung dalam waktu singkat karena sejumlah risiko masih membayangi.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak 28 Februari 2026 sempat mengguncang ekonomi dunia. Perang tersebut menghambat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak global.
Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga minyak, gas alam, pupuk, hingga biaya pengiriman internasional.
IMF Nilai Kondisi Mulai Membaik
Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, mengatakan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perkembangan yang mendukung stabilitas ekonomi global.
Meski demikian, IMF tetap mencermati berbagai risiko yang masih berpotensi menghambat proses pemulihan ekonomi dunia.
Selain itu, IMF terus mengevaluasi dampak konflik terhadap harga komoditas, inflasi global, serta kondisi pasar keuangan internasional.
Harga Minyak dan Pupuk Mulai Turun
IMF mencatat harga minyak dunia mulai turun dari level tertingginya selama perang berlangsung.
Meski demikian, harga minyak masih berada sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.
Selain minyak, harga gas alam, logam dasar, urea, dan sejumlah komoditas pupuk juga mulai menurun.
Penurunan tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar komoditas mulai berkurang meskipun proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.
Pemulihan Belum Berlangsung Cepat
Julie Kozack menjelaskan arus perdagangan internasional masih membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Kapal-kapal yang sempat tertahan di sekitar Selat Hormuz masih harus menyelesaikan perjalanan, membongkar muatan, hingga mendistribusikan barang ke berbagai negara.
Karena itu, IMF menilai proses normalisasi rantai pasok global belum akan selesai dalam waktu dekat.
Negara Pengimpor Energi Masih Rentan
IMF juga mengingatkan negara-negara pengimpor energi tetap menghadapi risiko paling besar apabila konflik kembali meningkat.
Menurut Julie Kozack, negara yang memiliki ruang fiskal terbatas dan cadangan energi minim akan merasakan dampak paling berat jika harga energi kembali melonjak.
Di sisi lain, IMF menilai kondisi keuangan global masih relatif stabil. Banyak negara masih memperoleh akses pendanaan internasional dengan biaya yang tetap kompetitif.
Selain itu, IMF meminta bank-bank sentral di berbagai negara terus mewaspadai potensi kenaikan inflasi apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat. (ys*)









