Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026). Rupiah turun 45 poin atau 0,25 persen dan ditutup di level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan tersebut terjadi setelah pelaku pasar merespons data neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
Defisit Neraca Perdagangan Tekan Rupiah
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan mencapai 1,61 miliar dollar AS.
Defisit itu muncul karena nilai impor sebesar 24,81 miliar dollar AS melampaui nilai ekspor yang hanya mencapai 23,20 miliar dollar AS.
Selain itu, sektor migas menyumbang defisit terbesar dengan nilai sekitar 3,76 miliar dollar AS.
Inflasi dan Impor Ikut Jadi Sorotan
BPS juga mencatat impor Indonesia meningkat 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, impor migas melonjak 70,78 persen secara tahunan.
Di sisi lain, inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen.
Kelompok makanan, transportasi, dan perawatan pribadi menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi tersebut.
Faktor Global Masih Membayangi
Selain faktor domestik, pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Hingga kini, kedua negara belum mencapai kesepakatan baru sehingga ketidakpastian geopolitik masih memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Di samping itu, investor juga menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Menurut Ibrahim, kombinasi faktor domestik dan global membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada perdagangan hari ini. (ys*)









