Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026). Rupiah turun 45 poin atau 0,25 persen dan ditutup di level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan tersebut terjadi setelah pelaku pasar merespons data neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

Defisit Neraca Perdagangan Tekan Rupiah

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan mencapai 1,61 miliar dollar AS.

Baca Juga :  Rupiah Bangkit ke Bawah Rp18.100 per Dollar AS, IHSG Menguat di Awal Perdagangan

Defisit itu muncul karena nilai impor sebesar 24,81 miliar dollar AS melampaui nilai ekspor yang hanya mencapai 23,20 miliar dollar AS.

Selain itu, sektor migas menyumbang defisit terbesar dengan nilai sekitar 3,76 miliar dollar AS.

Inflasi dan Impor Ikut Jadi Sorotan

BPS juga mencatat impor Indonesia meningkat 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, impor migas melonjak 70,78 persen secara tahunan.

Di sisi lain, inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen.

Kelompok makanan, transportasi, dan perawatan pribadi menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi tersebut.

Baca Juga :  Airlangga Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh di Atas 5 Persen, Investasi Jadi Penopang Utama

Faktor Global Masih Membayangi

Selain faktor domestik, pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Hingga kini, kedua negara belum mencapai kesepakatan baru sehingga ketidakpastian geopolitik masih memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

Di samping itu, investor juga menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Menurut Ibrahim, kombinasi faktor domestik dan global membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada perdagangan hari ini. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama
Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen
Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB
Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara
Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta
PPh 21 2027 Berlanjut, Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Jadi Sasaran
Asing Jual Bersih Rp204,3 Miliar di Sesi I, GOTO Paling Banyak Dilepas
Harga Emas Antam Hari Ini 30 September 2026 Naik Rp15.000, 1 Gram Jadi Rp2,595 Juta
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta

Berita Terbaru