Elpiji 3 Kg Bakal Pakai Data Desil, Warga Khawatir Salah Sasaran: “Jangan Sampai Jadi Korban”

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, APGtimes.com – Rencana pemerintah mengatur pembelian elpiji 3 kilogram (kg) berdasarkan data desil mendapat sorotan dari masyarakat.

Sejumlah warga mempertanyakan kesiapan data tersebut. Mereka khawatir pemerintah menerapkan aturan baru sebelum memperbaiki data penerima yang masih bermasalah.

Rike (50), warga Jakarta Selatan, mempertanyakan akurasi data desil yang akan menjadi dasar kebijakan tersebut.

“Cara akurasi data penerimanya gimana coba? Sementara desil warga masih banyak yang belum sesuai,” kata Rike kepada Kompas.com, Sabtu (28/8/2026).

Warga Minta Data Diperbaiki

Rike meminta pemerintah membenahi data desil sebelum menggunakannya untuk menentukan penerima subsidi.

Menurutnya, data yang tidak akurat dapat merugikan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Jika pemerintah memakai data tersebut untuk mengatur pembelian elpiji 3 kg, sebagian warga bisa kehilangan akses terhadap energi bersubsidi.

Karena itu, Rike meminta pemerintah memastikan kondisi ekonomi masyarakat sesuai dengan data yang tercatat.

Baca Juga :  Bank Danamon Ungkap Kunci Ekonomi RI Tembus 6 Persen: Investasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Pedagang Kecil Khawatir Ikut Terdampak

Kekhawatiran serupa disampaikan Rany (28). Ia menilai pemerintah perlu berhati-hati sebelum menerapkan pembatasan pembelian elpiji 3 kg berdasarkan desil.

“Ini kebijakan ribet banget, nyiksa banget. Kasihan masyarakat jadi korban pemerintah,” ujar Rany.

Rany menilai elpiji 3 kg sangat penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pedagang kecil juga mengandalkan gas bersubsidi untuk menjalankan usaha sehari-hari.

Jika data desil keliru, pedagang kecil bisa kehilangan akses terhadap elpiji 3 kg. Mereka akhirnya harus membeli gas dengan harga lebih mahal.

Kondisi tersebut tentu dapat menambah biaya operasional dan mengurangi keuntungan usaha kecil.

Pemerintah Siapkan Aturan Berbasis Desil

Pemerintah sebelumnya berencana menggunakan data desil untuk mengatur pembelian elpiji 3 kg.

Kebijakan tersebut akan mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pemerintah ingin memastikan subsidi energi sampai kepada masyarakat yang berhak.

Baca Juga :  Pertamina Tambah Armada Truk Tangki BBM, Distribusi 24 Jam Libatkan BKO TNI

Selanjutnya, pemerintah akan membahas penggunaan data desil bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan PT Pertamina.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah perlu mengatur penyaluran elpiji 3 kg karena konsumsi terus meningkat.

Sepanjang 2026, penyaluran elpiji 3 kg mencapai sekitar 8,677 juta metrik ton (MT). Angka tersebut melampaui kuota dalam APBN 2026 yang berada di kisaran 8 juta MT.

“Memang kalau kita perhatikan bahwa di tahun 2025 kemarin juga sudah ada penyesuaian untuk prognosa dan untuk tahun 2026 ini memang prognosanya itu sebesar 8,6 juta ton elpiji,” kata Laode dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Rencana tersebut kini masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Pemerintah harus memastikan penggunaan data desil tidak justru membuat masyarakat yang seharusnya menerima subsidi kehilangan haknya. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB