Hassan Rouhani Minta Rakyat Iran Tentukan Kelanjutan Perang dengan AS

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam foto yang dirilis oleh situs resmi kantor Kepresidenan Iran, Presiden Hassan Rouhani berbicara dalam pertemuan di kompleks kepresidenan di Teheran, Iran, Selasa, 6 Juli 2021. (OFFICE OF THE IRANIAN PRESIDENSY via AP)

Dalam foto yang dirilis oleh situs resmi kantor Kepresidenan Iran, Presiden Hassan Rouhani berbicara dalam pertemuan di kompleks kepresidenan di Teheran, Iran, Selasa, 6 Juli 2021. (OFFICE OF THE IRANIAN PRESIDENSY via AP)

Teheran, APGtimes.com – Mantan Presiden Iran Hassan Rouhani meminta pemerintah melibatkan rakyat dalam menentukan arah perang dengan Amerika Serikat (AS), apakah konflik perlu berlanjut atau segera berakhir.

Rouhani menyampaikan pandangan tersebut saat bertemu sejumlah mantan gubernur provinsi. Pernyataan itu kemudian ditafsirkan sejumlah pengamat politik sebagai dorongan untuk menggelar pemungutan suara atau referendum mengenai kelanjutan perang.

Menurut Rouhani, pemerintah harus lebih dulu merumuskan tujuan dan kepentingan nasional Iran secara jelas. Setelah itu, pemerintah perlu menyampaikan rencana tersebut kepada masyarakat dan memberi mereka kesempatan untuk menentukan pilihan.

“Hal yang sangat penting adalah kerangka tujuan nasional kita jelas bagi kita terlebih dahulu, kemudian kita sampaikan kepada rakyat,” kata Rouhani seperti dikutip The Telegraph, Senin (7/9/2026).

Rouhani Buka Opsi Penghentian Perang

Rouhani menggambarkan kemungkinan pemerintah mengajak rakyat menentukan apakah Iran perlu melanjutkan perang dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Trump Klaim “Mission Accomplished” di Iran, Tapi Tujuan Perang AS Dipertanyakan

“Kita katakan kepada rakyat: rencana kita adalah berperang melawan kekuatan-kekuatan besar dunia selama 20 tahun lagi. Jika rakyat mengatakan mereka menerimanya, sangat baik, mari kita lanjutkan,” ujarnya.

Namun, ia juga membuka pilihan lain jika mayoritas masyarakat menginginkan penghentian konflik.

Rouhani menilai Iran perlu mengakhiri perang secara terhormat apabila gencatan senjata sesuai dengan kehendak mayoritas rakyat. Langkah tersebut, menurut dia, dapat membantu Iran memulihkan kerusakan akibat perang.

Selain itu, penghentian konflik juga dapat memberikan harapan baru kepada investor dan generasi muda Iran.

Rouhani Soroti Suara Kelompok Kecil

Rouhani juga mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap kelompok yang paling lantang berbicara sebagai representasi seluruh rakyat Iran.

“Sebagian kecil yang sekarang memegang pengeras suara dan membuat keributan bukanlah mayoritas masyarakat Iran,” kata dia.

Karena itu, Rouhani mendorong pemerintah mendengar suara masyarakat secara lebih luas sebelum menentukan kebijakan terkait perang.

Baca Juga :  Iran Murka di Piala Dunia 2026, Sebut Turnamen Tinggalkan Catatan Kelam

Kritik Media Pemerintah Iran

Selain membahas perang, Rouhani mengkritik lembaga penyiaran nasional Iran. Ia menilai lembaga tersebut terlalu banyak menampilkan pandangan kelompok garis keras dan suara militer.

Rouhani memperingatkan kondisi tersebut dapat membuat media nasional kehilangan pemirsa. Menurut dia, lembaga penyiaran yang justru memperbesar perpecahan akan semakin jauh dari masyarakat.

Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena media pemerintah memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Kelompok Garis Keras Menentang Rouhani

Seruan Rouhani mendapat penolakan dari kelompok garis keras di Iran. Kelompok tersebut selama ini mendorong sikap keras terhadap Washington dan mendukung kelanjutan perang melawan AS.

Perbedaan pandangan itu menunjukkan adanya perdebatan di dalam negeri Iran mengenai arah konflik, termasuk apakah perang harus terus berlangsung atau pemerintah perlu mencari jalan menuju penghentian pertempuran. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Museum Renoir di Perancis Dibobol, 4 Karya Seni Senilai Rp 176 Miliar Dicuri
Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia
Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu
Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja
Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang
Trump Klaim “Mission Accomplished” di Iran, Tapi Tujuan Perang AS Dipertanyakan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 21:09 WIB

Museum Renoir di Perancis Dibobol, 4 Karya Seni Senilai Rp 176 Miliar Dicuri

Senin, 7 September 2026 - 11:09 WIB

Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia

Rabu, 2 September 2026 - 15:09 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Selasa, 1 September 2026 - 19:09 WIB

Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:09 WIB

Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang

Berita Terbaru