RUU Reforma Agraria Bakal Jadi Aturan Khusus, Tanah LTRA Tak Lagi Tunduk pada UU Sektoral

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKB Muhammad Khozin mengatakan, korupsi yang menjerat kepala daerah memiliki tiga pola umum, yakni jual beli jabatan, pemberian izin, dan pengadaan barang dan jasa.(Istimewa/fraksipkb.com)

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKB Muhammad Khozin mengatakan, korupsi yang menjerat kepala daerah memiliki tiga pola umum, yakni jual beli jabatan, pemberian izin, dan pengadaan barang dan jasa.(Istimewa/fraksipkb.com)

Jakarta, APGtimes.com – Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengaturan Reforma Agraria disiapkan sebagai aturan khusus atau lex specialis untuk menangani berbagai persoalan agraria di Indonesia.

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Muhammad Khozin mengatakan, aturan itu akan memberikan mekanisme khusus bagi tanah yang masuk dalam lokasi prioritas reforma agraria (LTRA).

Tanah Prioritas Reforma Agraria

Khozin menjelaskan, RUU tersebut akan memberikan ketentuan khusus bagi tanah yang masuk LTRA. Ketentuan sektoral yang selama ini mengatur status tanah tidak lagi menjadi acuan utama setelah pemerintah menetapkan suatu bidang sebagai LTRA.

“Senyampang itu sudah ditetapkan menjadi LTRA, lokasi prioritas reforma agraria, maka dia tidak tunduk kepada undang-undang sektoral itu. Lex specialis tadi,” kata Khozin dalam diskusi mengenai RUU Pengaturan Reforma Agraria di Gedung DPR RI, Selasa (15/9/2026).

Banyak Aturan Picu Konflik Agraria

Khozin menilai persoalan agraria muncul dalam banyak sektor. Pemerintah mengatur tanah melalui berbagai aturan yang mencakup kehutanan, perbendaharaan negara, BUMN, dan aset pemerintah.

Baca Juga :  UU Reforma Agraria Resmi Berlaku, DPR Soroti Cara Negara Koreksi Kebijakan Agraria

Keragaman aturan itu, menurut Khozin, membuat penyelesaian konflik agraria semakin rumit. Setiap sektor memiliki kebijakan dan ketentuan yang berbeda.

“Problematika kita dalam penyelesaian konflik agraria itu adalah terjadi fragmentasi secara regulasi dan fragmentasi secara policy,” ujarnya.

Karena itu, RUU Pengaturan Reforma Agraria akan menjadi salah satu instrumen untuk menyatukan mekanisme penyelesaian persoalan tersebut.

HGU Berakhir Belum Langsung Jadi Objek Reforma Agraria

Khozin juga menyoroti tanah yang masa Hak Guna Usaha (HGU)-nya telah berakhir. Ia mengatakan, berakhirnya HGU belum otomatis membuat tanah tersebut masuk sebagai cadangan objek reforma agraria.

Pemerintah masih dapat mencatat tanah itu sebagai aset negara. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan persoalan ketika pemerintah ingin menetapkan tanah tersebut sebagai bagian dari program reforma agraria.

Khozin menilai kondisi itu berkaitan dengan cara negara mengatur tanah. Ia mengingatkan bahwa Pasal 33 UUD 1945 memberikan kewenangan kepada negara untuk menguasai dan mengatur tanah, bukan memilikinya.

Baca Juga :  RUU Reforma Agraria Atur BRAN dan Batas Penguasaan Tanah, Ini Isinya

“Negara itu di Pasal 33 UUD 1945 itu menguasai, bukan memiliki,” tegasnya.

Data Agraria Antarlembaga Belum Terhubung

Selain regulasi, Khozin menyoroti persoalan data agraria yang belum terhubung secara menyeluruh. Setiap sektor masih mengelola basis data masing-masing.

“Kehutanan punya basis data sendiri, transmigrasi punya basis data sendiri, BPN punya basis data sendiri. Bahkan, di internalnya pun antara dirjen tidak connect ketika menetapkan mana HBS, mana LSD, ini fakta,” ungkap Khozin.

Menurut dia, perbedaan basis data tersebut dapat menyulitkan pemerintah saat menentukan status suatu bidang tanah.

Dengan demikian, pembahasan RUU Pengaturan Reforma Agraria tidak hanya menyangkut pembentukan aturan khusus. Pemerintah dan lembaga terkait juga perlu membangun sistem data yang terintegrasi agar penataan tanah berjalan lebih jelas dan terkoordinasi. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PPN Pembalut 11 Persen Jadi Sorotan, Menteri PPPA Harap Ada Kebijakan Menggembirakan
Ferry Boboho Ungkap Pernah Bahas Kasus Harvey Moeis dengan Febrie Adriansyah
Indonesia Gelar Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang, Libatkan Negara ASEAN dan Mitra
Putusan Kasasi Ijazah Gibran Jadi Sorotan, MA Belum Terima Salinan Resmi
Banjir Aceh Barat Meluas, 43 Gampong Terendam dan Dua Jembatan Gantung Rusak Berat
Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 21:09 WIB

PPN Pembalut 11 Persen Jadi Sorotan, Menteri PPPA Harap Ada Kebijakan Menggembirakan

Senin, 2 November 2026 - 20:09 WIB

Ferry Boboho Ungkap Pernah Bahas Kasus Harvey Moeis dengan Febrie Adriansyah

Senin, 2 November 2026 - 16:09 WIB

Indonesia Gelar Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang, Libatkan Negara ASEAN dan Mitra

Senin, 2 November 2026 - 11:09 WIB

Putusan Kasasi Ijazah Gibran Jadi Sorotan, MA Belum Terima Salinan Resmi

Senin, 2 November 2026 - 10:09 WIB

Banjir Aceh Barat Meluas, 43 Gampong Terendam dan Dua Jembatan Gantung Rusak Berat

Berita Terbaru