Rupiah Dibuka Rp17.958 per Dollar AS, Mata Uang Asia Ramai-Ramai Melemah

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026). Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di level Rp17.958 per dollar AS.

Posisi tersebut turun 55 poin atau 0,31 persen dari perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.902 per dollar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung saat pelaku pasar kembali mencermati arah dollar AS dan kebijakan suku bunga global.

Mata Uang Asia Mayoritas Melemah

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi pada sebagian besar mata uang Asia.

Won Korea Selatan melemah 0,52 persen ke level 1.361,07 per dollar AS. Baht Thailand turun 0,40 persen menjadi 33,52 per dollar AS.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp17.786 per Dollar AS, Pasar Menanti Keputusan BI

Yen Jepang melemah 0,30 persen ke level 157,75 per dollar AS. Yuan China turun tipis 0,03 persen menjadi 6,7155 per dollar AS.

Dollar Hong Kong melemah 0,30 persen ke level 20,1101 per dollar AS. Sementara itu, dollar Taiwan turun 0,18 persen menjadi 31,8110 per dollar AS.

Di Asia Tenggara, ringgit Malaysia turun 0,15 persen menjadi 4,0802 per dollar AS. Peso Filipina juga melemah 0,05 persen ke level 62,5070 per dollar AS.

Di tengah tekanan tersebut, rupee India justru menguat 0,15 persen terhadap dollar AS.

Baca Juga :  Kemenkeu Siapkan Strategi Utang 2027, SBN Domestik Jadi Prioritas

Imbal Hasil Treasury Jadi Perhatian

Pergerakan mata uang regional terjadi setelah pasar mencermati penguatan dollar AS serta prospek kebijakan suku bunga bank sentral global.

Kenaikan imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi suku bunga AS yang bertahan pada level tinggi turut memberikan tekanan terhadap rupiah dan sejumlah mata uang regional.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada sejumlah faktor. Arah dollar AS, kebijakan Federal Reserve, imbal hasil surat utang AS, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik global menjadi faktor yang akan terus dicermati pelaku pasar. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama
Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen
Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB
Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara
Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta
PPh 21 2027 Berlanjut, Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Jadi Sasaran
Asing Jual Bersih Rp204,3 Miliar di Sesi I, GOTO Paling Banyak Dilepas
Harga Emas Antam Hari Ini 30 September 2026 Naik Rp15.000, 1 Gram Jadi Rp2,595 Juta
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta

Berita Terbaru