Laporan Forrester Research menunjukkan 55 persen perusahaan mengaku menyesal setelah memberhentikan karyawan karena AI. Sebagian perusahaan bahkan mulai merekrut kembali pekerja yang sebelumnya mereka gantikan dengan teknologi tersebut.
Namun, Forrester mencatat perusahaan kemungkinan tidak selalu mengembalikan pekerjaan itu ke pasar tenaga kerja lokal. Sebagian posisi dapat berpindah ke luar negeri atau perusahaan menawarkan pekerjaan tersebut dengan gaji yang lebih rendah.
Ford Rekrut Lagi Ratusan Engineer
Ford menjadi salah satu perusahaan yang mengubah strategi setelah terlalu mengandalkan AI. Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat itu mengakui penggunaan AI yang berlebihan dalam proses pengembangan kendaraan.
Ford kemudian merekrut kembali lebih dari 350 engineer. Sebagian dari mereka merupakan mantan karyawan perusahaan yang sebelumnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Langkah tersebut menunjukkan bahwa teknologi belum sepenuhnya mampu menggantikan peran manusia dalam pekerjaan yang membutuhkan pengalaman, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks.
Klarna Akui Penggunaan AI Berlebihan
Fenomena serupa terjadi di Klarna. Perusahaan teknologi finansial asal Swedia itu memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 dan meningkatkan penggunaan AI untuk menggantikan sejumlah pekerjaan.
Klarna bahkan menggunakan chatbot untuk menangani pekerjaan sekitar 700 petugas layanan pelanggan. Teknologi tersebut mampu memangkas waktu layanan dari rata-rata 11 menit menjadi dua menit.
Penggunaan chatbot juga membantu Klarna menghemat sekitar 2 juta dollar AS atau sekitar Rp32,7 miliar. Namun, penghematan tersebut belum cukup meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk perusahaan.
CEO Klarna Sebastian Siemiatkowski kemudian mengakui perusahaan terlalu jauh mengandalkan AI. Kini, Klarna kembali membuka puluhan posisi untuk meningkatkan produktivitas dan pengalaman pelanggan.
IBM juga mengambil langkah serupa. Setelah memangkas ribuan pekerja, perusahaan teknologi tersebut berencana meningkatkan perekrutan karyawan entry-level hingga tiga kali lipat pada 2026.
Pekerja Masih Khawatir Kehilangan Pekerjaan
Meski sejumlah perusahaan mulai merekrut kembali karyawan, kekhawatiran terhadap dampak AI di dunia kerja masih tinggi.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan 53 persen warga Amerika Serikat khawatir AI dapat membuat seseorang dalam rumah tangga mereka kehilangan pekerjaan.
Kekhawatiran tersebut juga muncul di lingkungan kerja. Laporan Software Finder 2026 mencatat 53 persen pekerja khawatir penggunaan AI membuat peran mereka semakin tidak dibutuhkan.
Jackie Swanson dari Gartner menilai banyak perusahaan sudah memiliki rencana untuk mengadopsi AI. Namun, sebagian perusahaan belum memiliki strategi yang jelas mengenai dampak teknologi tersebut terhadap pekerja.
“Setiap organisasi memiliki peta jalan adopsi AI. Namun, hampir tidak ada yang memiliki rencana jujur mengenai apa yang dilakukan AI terhadap karyawan, kecepatan kerja, dan calon pemimpin mereka di masa depan,” tulis Swanson.
Perusahaan Mulai Libatkan Karyawan
Tidak semua perusahaan memilih PHK sebagai cara menghadapi perkembangan AI. Sejumlah perusahaan justru mengajak karyawan memahami dan menggunakan teknologi tersebut.
Perusahaan Ironclad, misalnya, menggelar kelas internal untuk mengajarkan penggunaan AI kepada karyawan.
Sementara itu, perusahaan teknologi Superhuman memberikan kebebasan kepada setiap tim untuk memilih perangkat AI yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kami tidak memulainya dengan mandat AI dari atas ke bawah,” kata Kenny Mendes, Chief People Officer Superhuman.
Menurut Mendes, tim yang paling dekat dengan masalah dapat memilih sendiri alat yang mereka perlukan. Tim tersebut dinilai paling memahami kebutuhan dan tantangan dalam pekerjaan sehari-hari.
Pendekatan tersebut membuat AI hadir sebagai alat untuk membantu karyawan, bukan sekadar sarana perusahaan untuk memangkas biaya tenaga kerja. (ys*)









