55 Persen Perusahaan Menyesal PHK Karyawan demi AI, Kini Mulai Rekrut Lagi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi robot humanoid H2 Plus kolaborasi Nvidia x Unitree(Nvidia)

Ilustrasi robot humanoid H2 Plus kolaborasi Nvidia x Unitree(Nvidia)

Jakarta, APGtimes.com – Gelombang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kerja mulai menghadapi perubahan arah. Sejumlah perusahaan yang sebelumnya memangkas karyawan untuk menggantikan pekerjaan manusia dengan AI kini justru meninjau ulang keputusan tersebut.

Laporan Forrester Research menunjukkan 55 persen perusahaan mengaku menyesal setelah memberhentikan karyawan karena AI. Sebagian perusahaan bahkan mulai merekrut kembali pekerja yang sebelumnya mereka gantikan dengan teknologi tersebut.

Namun, Forrester mencatat perusahaan kemungkinan tidak selalu mengembalikan pekerjaan itu ke pasar tenaga kerja lokal. Sebagian posisi dapat berpindah ke luar negeri atau perusahaan menawarkan pekerjaan tersebut dengan gaji yang lebih rendah.

Ford Rekrut Lagi Ratusan Engineer

Ford menjadi salah satu perusahaan yang mengubah strategi setelah terlalu mengandalkan AI. Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat itu mengakui penggunaan AI yang berlebihan dalam proses pengembangan kendaraan.

Ford kemudian merekrut kembali lebih dari 350 engineer. Sebagian dari mereka merupakan mantan karyawan perusahaan yang sebelumnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Langkah tersebut menunjukkan bahwa teknologi belum sepenuhnya mampu menggantikan peran manusia dalam pekerjaan yang membutuhkan pengalaman, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks.

Klarna Akui Penggunaan AI Berlebihan

Fenomena serupa terjadi di Klarna. Perusahaan teknologi finansial asal Swedia itu memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 dan meningkatkan penggunaan AI untuk menggantikan sejumlah pekerjaan.

Baca Juga :  GPT-6 Resmi Hadir untuk Pengguna ChatGPT, Jawaban Kini Bisa Lebih Interaktif

Klarna bahkan menggunakan chatbot untuk menangani pekerjaan sekitar 700 petugas layanan pelanggan. Teknologi tersebut mampu memangkas waktu layanan dari rata-rata 11 menit menjadi dua menit.

Penggunaan chatbot juga membantu Klarna menghemat sekitar 2 juta dollar AS atau sekitar Rp32,7 miliar. Namun, penghematan tersebut belum cukup meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk perusahaan.

CEO Klarna Sebastian Siemiatkowski kemudian mengakui perusahaan terlalu jauh mengandalkan AI. Kini, Klarna kembali membuka puluhan posisi untuk meningkatkan produktivitas dan pengalaman pelanggan.

IBM juga mengambil langkah serupa. Setelah memangkas ribuan pekerja, perusahaan teknologi tersebut berencana meningkatkan perekrutan karyawan entry-level hingga tiga kali lipat pada 2026.

Pekerja Masih Khawatir Kehilangan Pekerjaan

Meski sejumlah perusahaan mulai merekrut kembali karyawan, kekhawatiran terhadap dampak AI di dunia kerja masih tinggi.

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan 53 persen warga Amerika Serikat khawatir AI dapat membuat seseorang dalam rumah tangga mereka kehilangan pekerjaan.

Kekhawatiran tersebut juga muncul di lingkungan kerja. Laporan Software Finder 2026 mencatat 53 persen pekerja khawatir penggunaan AI membuat peran mereka semakin tidak dibutuhkan.

Baca Juga :  HMD Vibe 2 Pro 5G Resmi Meluncur, Bawa Kamera 64 MP dan Baterai 6.000 mAh

Jackie Swanson dari Gartner menilai banyak perusahaan sudah memiliki rencana untuk mengadopsi AI. Namun, sebagian perusahaan belum memiliki strategi yang jelas mengenai dampak teknologi tersebut terhadap pekerja.

“Setiap organisasi memiliki peta jalan adopsi AI. Namun, hampir tidak ada yang memiliki rencana jujur mengenai apa yang dilakukan AI terhadap karyawan, kecepatan kerja, dan calon pemimpin mereka di masa depan,” tulis Swanson.

Perusahaan Mulai Libatkan Karyawan

Tidak semua perusahaan memilih PHK sebagai cara menghadapi perkembangan AI. Sejumlah perusahaan justru mengajak karyawan memahami dan menggunakan teknologi tersebut.

Perusahaan Ironclad, misalnya, menggelar kelas internal untuk mengajarkan penggunaan AI kepada karyawan.

Sementara itu, perusahaan teknologi Superhuman memberikan kebebasan kepada setiap tim untuk memilih perangkat AI yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Kami tidak memulainya dengan mandat AI dari atas ke bawah,” kata Kenny Mendes, Chief People Officer Superhuman.

Menurut Mendes, tim yang paling dekat dengan masalah dapat memilih sendiri alat yang mereka perlukan. Tim tersebut dinilai paling memahami kebutuhan dan tantangan dalam pekerjaan sehari-hari.

Pendekatan tersebut membuat AI hadir sebagai alat untuk membantu karyawan, bukan sekadar sarana perusahaan untuk memangkas biaya tenaga kerja. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Honor Win Pad Resmi Meluncur, Tablet Gaming dengan Layar 240 Hz dan Baterai 10.000 mAh
Apple Batasi Pembelian iPhone Duo Maksimal 2 Unit, Calo Jual hingga Rp89 Juta
WhatsApp Kembangkan Stiker Bersuara, Audio Bisa Ditambahkan hingga 10 Detik
Shutdown Windows Tak Mematikan PC Sepenuhnya, Ini Fungsi Fast Startup
AiMOGA Bawa Robot Humanoid dan Kursi Roda Kendali Otak ke Chery Summit 2026
Sony Rilis 3 Walkman Premium, Model Berlapis Emas Dibanderol Rp 106 Juta
Redmagic 12 Pro Plus Meluncur, HP Gaming Nubia Bisa Mainkan Gim PC Steam
Netflix PHK 1.000 Karyawan, Terbesar Sejak 2022
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Apple Batasi Pembelian iPhone Duo Maksimal 2 Unit, Calo Jual hingga Rp89 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:09 WIB

WhatsApp Kembangkan Stiker Bersuara, Audio Bisa Ditambahkan hingga 10 Detik

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Shutdown Windows Tak Mematikan PC Sepenuhnya, Ini Fungsi Fast Startup

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:09 WIB

AiMOGA Bawa Robot Humanoid dan Kursi Roda Kendali Otak ke Chery Summit 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Sony Rilis 3 Walkman Premium, Model Berlapis Emas Dibanderol Rp 106 Juta

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB