Jakarta, APGtimes.com – Tren pasar smartphone mulai berubah. Konsumen kini semakin banyak memilih HP bekas dan rekondisi ketika harga ponsel baru terus meningkat.
Perubahan tersebut terlihat dari pengiriman panel layar untuk pasar smartphone rekondisi. Berdasarkan laporan perusahaan riset Omdia, produsen panel mengirim 298 juta unit panel ke pasar rekondisi pada kuartal I-2026.
Sementara itu, pengiriman panel untuk produksi smartphone baru hanya mencapai 289 juta unit. Dengan demikian, kebutuhan panel untuk memperbaiki dan merekondisi HP lama untuk pertama kalinya melampaui kebutuhan produksi ponsel baru.
Pasar HP Rekondisi Tumbuh 20 Persen
Tidak hanya melampaui pasar ponsel baru, kebutuhan panel untuk HP rekondisi juga tumbuh cukup pesat. Omdia mencatat pengiriman panel untuk kategori tersebut meningkat 20 persen dibandingkan kuartal I-2025.
Namun, angka 298 juta panel itu tidak berarti sebanyak 298 juta HP bekas terjual. Omdia memasukkan sejumlah aktivitas ke dalam kategori pasar rekondisi.
Misalnya, panel yang digunakan untuk mengganti layar rusak, memperbaiki perangkat, hingga merakit kembali HP bekas agar siap dijual termasuk dalam perhitungan tersebut.
Menariknya, pasar rekondisi kini juga menyasar smartphone premium. Pada kuartal I-2026, panel OLED menyumbang sekitar 7 persen dari total pengiriman panel untuk pasar rekondisi.
Padahal, setahun sebelumnya porsinya hanya sekitar 2 persen. Oleh karena itu, Omdia menilai HP premium berusia tiga hingga empat tahun mulai mendapatkan “kehidupan kedua” melalui pasar rekondisi.
Harga HP Baru Semakin Mahal
Di sisi lain, pertumbuhan pasar HP bekas terjadi ketika harga smartphone baru terus meningkat. Salah satu faktor yang mendorong kenaikan tersebut adalah mahalnya komponen memori.
Harga DRAM dan NAND yang meningkat membuat biaya produksi smartphone ikut naik. Akibatnya, produsen harus lebih berhati-hati dalam memproduksi HP baru, terutama untuk segmen harga terjangkau.
Selain itu, Omdia memperkirakan kebutuhan panel untuk smartphone baru akan turun 12 persen sepanjang 2026. Pengiriman smartphone global juga turun 6 persen pada kuartal II-2026.
Pada periode tersebut, pengiriman smartphone global mencapai 272 juta unit. Angka itu turun dari 288,9 juta unit pada kuartal II-2025.
Harga Tinggi Berpotensi Jadi Standar Baru
Meski harga memori nantinya turun, harga smartphone belum tentu kembali ke level sebelumnya. Omdia melihat konsumen mulai terbiasa membeli ponsel dengan harga lebih tinggi.
Kondisi tersebut kemudian memberi ruang bagi produsen untuk mempertahankan harga pada level yang lebih tinggi. Omdia menyebut fenomena ini sebagai “structural repricing”.
Istilah tersebut menggambarkan perubahan harga yang berpotensi menjadi standar baru setelah kenaikan harga smartphone dalam setahun terakhir. Dengan kata lain, kenaikan harga tidak lagi sekadar dampak sementara dari kelangkaan memori.
Jika tren ini terus berlanjut, HP bekas dan rekondisi berpeluang semakin diminati konsumen. Terlebih lagi, perangkat tersebut menawarkan alternatif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan smartphone dengan harga lebih terjangkau. (ys*)









