Krisis Energi Timur Tengah Guncang Asia, Harga Minyak dan Gas Melonjak

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)

Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)

Jakarta, APGtimes.com — Konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai mengguncang ketahanan energi negara-negara Asia.

Ketergantungan kawasan Asia terhadap impor minyak dan gas dari Timur Tengah kini memicu tekanan ekonomi yang semakin besar.

Gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz turut mendorong lonjakan harga minyak dan gas dunia. Kondisi tersebut memicu ancaman inflasi, pelemahan daya beli, hingga gangguan pasokan energi di berbagai negara Asia.

Asia Sangat Bergantung pada Energi Timur Tengah

Asia selama ini menjadi kawasan yang paling bergantung pada impor energi fosil dari Timur Tengah.

Karena itu, gangguan rantai pasok akibat konflik langsung memukul negara-negara pengimpor energi seperti India, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Thailand, hingga negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Laporan World Economic Forum atau WEF menyebut ketergantungan Asia terhadap impor bahan bakar fosil membuat ketegangan geopolitik berubah menjadi tekanan ekonomi nyata.

“Gangguan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz mengguncang pasar energi global, dan Asia menjadi kawasan yang paling terdampak,” tulis WEF.

Selain itu, WEF juga menilai isu keamanan energi dan diversifikasi sumber energi kini menjadi prioritas strategis di banyak negara Asia.

Baca Juga :  UEA Percepat Pipa Minyak West-East untuk Hindari Blokade Selat Hormuz

Harga Energi Naik dan Ancam Ekonomi Asia

Selat Hormuz menjadi jalur utama perdagangan energi dunia. Sebagian besar pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Asia melewati jalur tersebut.

Akibatnya, perang di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar menjadi konflik regional, tetapi juga ancaman langsung bagi kestabilan ekonomi Asia.

Kenaikan harga energi mulai memengaruhi berbagai sektor ekonomi. Harga tiket pesawat, tarif logistik, hingga tagihan listrik ikut mengalami kenaikan.

United Nations Development Programme atau UNDP memperkirakan sekitar 8,8 juta orang berisiko jatuh ke jurang kemiskinan akibat dampak perang dan krisis energi.

Selain itu, UNDP juga memproyeksikan kerugian ekonomi kawasan Asia-Pasifik dapat mencapai 299 miliar dollar AS.

“Negara-negara dengan sumber daya paling sedikit untuk merespons adalah pihak yang paling cepat merasakan dampaknya,” ujar Samantha Gross dari Brookings Institution.

Pemerintah Asia Hadapi Tekanan Fiskal

Sebelum konflik memanas, banyak negara Asia menyusun anggaran dengan asumsi harga minyak berada di kisaran 70 dollar AS per barel.

Namun, perang mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga sekitar 120 dollar AS per barel.

Baca Juga :  Kabar Baik! Harga Pertamax Diprediksi Turun Setelah Damai AS-Iran

Kondisi tersebut membuat pemerintah menghadapi tekanan fiskal yang semakin berat karena harus mempertahankan subsidi energi.

Analis energi independen asal Kuala Lumpur, Ahmad Rafdi Endut, menilai pemerintah kini menghadapi pilihan sulit.

“Pemerintah harus memilih antara mempertahankan subsidi yang mahal atau mengurangi subsidi dan membebankan biaya lebih tinggi kepada masyarakat,” ujar Rafdi.

Negara-Negara Asia Mulai Lakukan Penghematan

Tekanan krisis energi membuat sejumlah negara mulai menerapkan langkah penghematan energi.

Pemerintah India mulai mengalihkan pasokan bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga dan meminta masyarakat mengurangi konsumsi energi.

Bahkan, Narendra Modi mengajak masyarakat mengurangi perjalanan luar negeri, bekerja dari rumah, serta memakai transportasi publik.

Sementara itu, pemerintah Filipina menerapkan sistem kerja empat hari untuk menekan konsumsi bahan bakar.

Di sisi lain, Thailand mulai melepas batas harga diesel setelah subsidi energi negara tersebut habis.

Vietnam juga memperpanjang penghentian sementara pajak bahan bakar untuk menjaga harga energi domestik tetap stabil.

Krisis energi juga mulai memicu pengurangan penerbangan akibat keterbatasan pasokan bahan bakar pesawat di sejumlah negara Asia. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zulhas Tegaskan Kopdes Merah Putih Tak Matikan Warung dan UMKM, Ini Peran Utamanya
BPJS Kesehatan PBI Nonaktif? Begini Cara Mengaktifkannya Kembali dengan Mudah
Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Makin Kuat, Pengamat Ungkap 11 Pejabat yang Layak Dievaluasi
Membludak! Pendaftar Magang Nasional 2026 Capai 300 Ribu, Kuota Tahap I Cuma 50 Ribu
Prabowo Resmikan 7 Kejari Baru, Kejagung Langsung Siapkan Kantor dan Operasional
Aturan Baru Pilkades 2027 Resmi Berlaku, Calon Tunggal Kini Bisa Melawan Kotak Kosong
Pemerintah Resmi Terbitkan Izin, Pembangunan 17 Yonif Teritorial TNI AD Segera Berjalan
Sudaryono Larang Dapur MBG Cari Bahan Murah, Wajib Ikuti Harga Acuan Pemerintah
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:09 WIB

Zulhas Tegaskan Kopdes Merah Putih Tak Matikan Warung dan UMKM, Ini Peran Utamanya

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:09 WIB

BPJS Kesehatan PBI Nonaktif? Begini Cara Mengaktifkannya Kembali dengan Mudah

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:09 WIB

Membludak! Pendaftar Magang Nasional 2026 Capai 300 Ribu, Kuota Tahap I Cuma 50 Ribu

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:09 WIB

Prabowo Resmikan 7 Kejari Baru, Kejagung Langsung Siapkan Kantor dan Operasional

Selasa, 28 Juli 2026 - 16:09 WIB

Aturan Baru Pilkades 2027 Resmi Berlaku, Calon Tunggal Kini Bisa Melawan Kotak Kosong

Berita Terbaru

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Internasional

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Jul 2026 - 22:09 WIB