Jakarta, APGtimes.com — Konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai mengguncang ketahanan energi negara-negara Asia.
Ketergantungan kawasan Asia terhadap impor minyak dan gas dari Timur Tengah kini memicu tekanan ekonomi yang semakin besar.
Gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz turut mendorong lonjakan harga minyak dan gas dunia. Kondisi tersebut memicu ancaman inflasi, pelemahan daya beli, hingga gangguan pasokan energi di berbagai negara Asia.
Asia Sangat Bergantung pada Energi Timur Tengah
Asia selama ini menjadi kawasan yang paling bergantung pada impor energi fosil dari Timur Tengah.
Karena itu, gangguan rantai pasok akibat konflik langsung memukul negara-negara pengimpor energi seperti India, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Thailand, hingga negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Laporan World Economic Forum atau WEF menyebut ketergantungan Asia terhadap impor bahan bakar fosil membuat ketegangan geopolitik berubah menjadi tekanan ekonomi nyata.
“Gangguan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz mengguncang pasar energi global, dan Asia menjadi kawasan yang paling terdampak,” tulis WEF.
Selain itu, WEF juga menilai isu keamanan energi dan diversifikasi sumber energi kini menjadi prioritas strategis di banyak negara Asia.
Harga Energi Naik dan Ancam Ekonomi Asia
Selat Hormuz menjadi jalur utama perdagangan energi dunia. Sebagian besar pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Asia melewati jalur tersebut.
Akibatnya, perang di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar menjadi konflik regional, tetapi juga ancaman langsung bagi kestabilan ekonomi Asia.
Kenaikan harga energi mulai memengaruhi berbagai sektor ekonomi. Harga tiket pesawat, tarif logistik, hingga tagihan listrik ikut mengalami kenaikan.
United Nations Development Programme atau UNDP memperkirakan sekitar 8,8 juta orang berisiko jatuh ke jurang kemiskinan akibat dampak perang dan krisis energi.
Selain itu, UNDP juga memproyeksikan kerugian ekonomi kawasan Asia-Pasifik dapat mencapai 299 miliar dollar AS.
“Negara-negara dengan sumber daya paling sedikit untuk merespons adalah pihak yang paling cepat merasakan dampaknya,” ujar Samantha Gross dari Brookings Institution.
Pemerintah Asia Hadapi Tekanan Fiskal
Sebelum konflik memanas, banyak negara Asia menyusun anggaran dengan asumsi harga minyak berada di kisaran 70 dollar AS per barel.
Namun, perang mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga sekitar 120 dollar AS per barel.
Kondisi tersebut membuat pemerintah menghadapi tekanan fiskal yang semakin berat karena harus mempertahankan subsidi energi.
Analis energi independen asal Kuala Lumpur, Ahmad Rafdi Endut, menilai pemerintah kini menghadapi pilihan sulit.
“Pemerintah harus memilih antara mempertahankan subsidi yang mahal atau mengurangi subsidi dan membebankan biaya lebih tinggi kepada masyarakat,” ujar Rafdi.
Negara-Negara Asia Mulai Lakukan Penghematan
Tekanan krisis energi membuat sejumlah negara mulai menerapkan langkah penghematan energi.
Pemerintah India mulai mengalihkan pasokan bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga dan meminta masyarakat mengurangi konsumsi energi.
Bahkan, Narendra Modi mengajak masyarakat mengurangi perjalanan luar negeri, bekerja dari rumah, serta memakai transportasi publik.
Sementara itu, pemerintah Filipina menerapkan sistem kerja empat hari untuk menekan konsumsi bahan bakar.
Di sisi lain, Thailand mulai melepas batas harga diesel setelah subsidi energi negara tersebut habis.
Vietnam juga memperpanjang penghentian sementara pajak bahan bakar untuk menjaga harga energi domestik tetap stabil.
Krisis energi juga mulai memicu pengurangan penerbangan akibat keterbatasan pasokan bahan bakar pesawat di sejumlah negara Asia. (dr*)









