Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 07:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mark Zuckerberg, CEO Meta (Fortune)

Mark Zuckerberg, CEO Meta (Fortune)

APGtimes.com–Di kantor-kantor Meta, suasana berubah cepat. Dulu, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu menjadi tempat kerja paling nyaman di dunia teknologi. Gaji tinggi. Bonus besar. Fasilitas nyaris tanpa batas.

Kini suasananya berbeda. Ribuan pegawai angkat kaki.

Meta memangkas sekitar 8.000 karyawan. Jumlah itu hampir 10 persen dari total tenaga kerjanya. Gelombang PHK terbaru ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah perusahaan.

Di balik keputusan besar itu ada satu kata: AI. CEO Mark Zuckerberg kini terang-terangan mengubah arah perusahaan. Ia ingin Meta menjadi pemain utama dalam perlombaan kecerdasan buatan global.

Dalam memo internal yang dikutip CNBC, Zuckerberg menyebut AI sebagai teknologi paling penting dalam kehidupan manusia saat ini.

Menurutnya, perusahaan yang memimpin AI akan menentukan masa depan industri teknologi dunia. Kalimat itu terdengar seperti alarm perang.

Meta kini tidak hanya bersaing dengan Google atau Microsoft. Perusahaan itu juga mengejar laju OpenAI yang terus melesat lewat berbagai produk AI generatif.

Karena itu, Zuckerberg memilih langkah ekstrem: mengurangi manusia demi membesarkan mesin.

Baca Juga :  China Kejar Terobosan Tangan Robot Mirip Manusia, Jadi Kunci Masa Depan Robot Humanoid

Dana Mengalir ke AI

Publik sebenarnya sudah mencium sinyal PHK besar sejak April lalu. Saat itu Meta menghentikan perekrutan ribuan posisi baru.

Perusahaan juga menekan pengeluaran di banyak lini. Meta lalu mengalihkan dana itu ke investasi AI.

Meta bahkan berencana memindahkan sekitar 7.000 pegawai ke divisi baru yang berhubungan langsung dengan pengembangan AI. Mulai dari infrastruktur AI, foundation models, hingga monetisasi kecerdasan buatan.

Meta melindungi divisi-divisi tersebut. Sebaliknya, perusahaan memangkas sektor yang tidak lagi menjadi prioritas utama.

Zuckerberg mengaku keputusan itu berat. Ia menyebut perpisahan dengan orang-orang yang ikut membangun perusahaan selalu terasa menyedihkan.

Namun, menurutnya, Meta harus bergerak lebih cepat. Perusahaan ingin merampingkan struktur kerja. Manajemen juga ingin memangkas birokrasi.

Bahasa sederhananya: perusahaan teknologi kini tidak lagi membutuhkan terlalu banyak manusia untuk mencetak pertumbuhan besar. AI mulai mengambil alih banyak pekerjaan.

Ketakutan Mulai Menyebar

Gelombang PHK ini memperpanjang daftar efisiensi Meta sepanjang 2026.

Sebelumnya, perusahaan memangkas sekitar 1.000 pegawai di divisi Reality Labs pada Januari. Pada Maret, Meta kembali memberhentikan ratusan pekerja lain.

Baca Juga :  Arab Saudi Resmi Buka Umrah 1448 H, Visa Mulai Terbit dan Jemaah Sudah Bisa Masuk Makkah

Meta juga mulai mengurangi ketergantungan pada vendor moderasi konten manusia. Sebagai gantinya, perusahaan semakin mengandalkan AI.

Di internal perusahaan, situasi mulai memicu kecemasan.

Data dari platform anonim Blind menunjukkan rating internal Meta turun tajam dibanding beberapa tahun lalu. Penilaian terhadap budaya kerja perusahaan juga ikut merosot.

Pegawai mulai melihat kenyataan baru: era “surga pekerja teknologi” perlahan berakhir.

Kini perusahaan teknologi lebih menghargai kecepatan inovasi dibanding jumlah tenaga kerja.

Bukan Hanya Meta

Fenomena ini juga terjadi di perusahaan teknologi lain.

Cisco pekan lalu mengumumkan PHK sekitar 4.000 pegawai. Perusahaan itu ingin mengalihkan investasi ke sektor AI yang lebih menjanjikan.

Sementara Microsoft mulai membuka program buyout sukarela untuk sebagian pegawainya di Amerika Serikat.

Pola besarnya kini terlihat jelas. Booming AI sedang mengubah wajah industri teknologi dunia.

Perusahaan berlomba membangun kecerdasan buatan secepat mungkin. Untuk membiayainya, mereka memangkas ribuan pekerja.

Zuckerberg tampaknya sudah memilih jalan itu. Ia rela mengecilkan perusahaan hari ini demi memenangkan perang AI di masa depan. (al/*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru
Kim Yo Jong Kritik ASEAN, Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Usulan Dwi Kewarganegaraan Indonesia Jadi Sorotan
Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Tetapkan Hari Libur Nasional
NORAD Perketat Ruang Udara New York Jelang Final Argentina vs Spanyol di Piala Dunia 2026
Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan
Filipina Murka! Video AI China Daily yang Gambarkan Warganya sebagai Monyet Picu Kecaman Keras
Australia Belajar Toleransi dari Indonesia, Pejabat Negeri Kanguru Kunjungi Masjid Istiqlal
Australia Resmi Larang Penjualan Daun Kelor, Petani Protes dan Ajukan Banding ke Pemerintah
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:09 WIB

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:09 WIB

Kim Yo Jong Kritik ASEAN, Trump Tunda Serangan ke Iran hingga Usulan Dwi Kewarganegaraan Indonesia Jadi Sorotan

Senin, 20 Juli 2026 - 16:09 WIB

Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Tetapkan Hari Libur Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:09 WIB

NORAD Perketat Ruang Udara New York Jelang Final Argentina vs Spanyol di Piala Dunia 2026

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:09 WIB

Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Internasional

Iran Ancam Balas Ukraina, Serangan di Laut Kaspia Picu Ketegangan Baru

Selasa, 28 Jul 2026 - 22:09 WIB