Palembang, APGtimes.com – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026).
Kondisi tersebut membuat kualitas udara Palembang masuk kategori berbahaya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 493,9 mikrometer pada pukul 02.00 WIB.
Angka tersebut masih berada pada level tinggi hingga pagi hari. Pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat 272,2 mikrometer.
Jarak Pandang Hanya 400 Meter
Kabut asap menutup hampir seluruh ruas jalan di Kota Palembang. Kondisi itu juga mengurangi jarak pandang hingga sekitar 400 meter.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah tetap menghadapi kondisi tersebut. Asap bahkan masih terasa hingga pagi ketika biasanya mulai menipis.
“Pagi ini parah sekali, biasanya pukul 09.00 WIB asap sudah mereda. Tapi sekarang asap masih banyak sekali dan makin pekat,” kata Alwi, warga Palembang.
Alwi tetap berangkat bekerja meski harus menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer. Ia menggunakan sepeda motor dan mengenakan masker selama perjalanan.
Namun, masker tidak sepenuhnya menghilangkan bau asap. Ia juga mengeluhkan mata yang terasa perih.
Asap Masuk ke Dalam Rumah
Kabut asap tidak hanya mengganggu warga yang beraktivitas di luar rumah. Asap juga masuk ke sejumlah rumah warga meski mereka sudah berupaya menutup ventilasi.
Eni (32), salah satu warga, mengaku mengalami sesak napas pada tengah malam. Ia bahkan sudah menutup ventilasi rumah menggunakan plastik dan menyalakan pendingin ruangan.
“Seluruh ventilasi rumah padahal sudah ditutupi pakai plastik dan AC dihidupkan. Tapi malam tadi asap tetap masuk,” ungkap Eni.
Kondisi tersebut membuat Eni mengalami gangguan pernapasan. Dua anaknya yang masih bayi juga ikut terdampak karena asap membuat mereka rewel dan sulit tidur.
Warga Khawatir Kabut Asap Berlanjut
Kabut asap yang bertahan hingga pagi membuat aktivitas warga semakin terganggu. Selain mengurangi jarak pandang, asap juga menimbulkan keluhan kesehatan bagi sebagian warga.
Eni berharap kondisi tersebut segera membaik sehingga keluarganya dapat kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.
“Anak saya rewel dari semalam susah tidur karena asap ini. Sampai kapan kami harus seperti ini terus,” ucapnya. (de*)









