Tito Karnavian Soroti Utang Daerah, Pemda Diminta Hitung Kemampuan Fiskal Sebelum Terbitkan Obligasi

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR RI terkait permasalahan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) dan honorer di Ruang Rapat Komisi II DPR RI, Jakarta, Senin (8/6/2026). (DOK. Humas Kemendagri)

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR RI terkait permasalahan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) dan honorer di Ruang Rapat Komisi II DPR RI, Jakarta, Senin (8/6/2026). (DOK. Humas Kemendagri)

Jakarta, APGtimes.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta pemerintah daerah (pemda) berhati-hati saat menerbitkan obligasi daerah.

Tito menilai pemda perlu menyesuaikan penerbitan obligasi dengan kemampuan keuangan masing-masing daerah. Langkah itu penting agar utang tidak berubah menjadi beban fiskal bagi pemerintahan berikutnya.

Menurut Tito, obligasi daerah pada dasarnya merupakan bentuk utang. Karena itu, pemda harus menghitung kemampuan membayar sebelum mengambil pembiayaan tersebut.

“Prinsipnya jangan sampai menimbulkan beban bagi kepala daerah yang baru. Kan banyak sekarang kepala daerah yang curhat ke saya karena mereka harus menanggung utang yang dibuat oleh pemerintahan sebelumnya,” ujar Tito kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga :  Istana Buka Suara Usai Kejagung Geledah Kantor BGN

Tito Dorong Obligasi untuk Proyek Produktif

Tito tidak menutup peluang bagi pemda untuk menggunakan obligasi sebagai sumber pembiayaan. Namun, ia meminta pemerintah daerah mengarahkan dana tersebut untuk proyek yang mampu menghasilkan pendapatan.

Salah satu contohnya adalah pembangunan rumah sakit yang kemudian dikelola sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Jika rumah sakit mampu menghasilkan pendapatan, pemda dapat menggunakan penerimaan tersebut untuk memenuhi kewajiban utang. Selain itu, fasilitas tersebut juga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kalau mungkin utang itu bersifat produktif, misalnya membuat rumah sakit dan rumah sakit itu menguntungkan menjadi BLUD, itu fine,” kata Tito.

Kemampuan Fiskal Daerah Harus Diperhitungkan

Tito juga meminta pemda melihat kapasitas fiskal sebelum menerbitkan obligasi. Menurutnya, daerah dengan kemampuan keuangan rendah perlu lebih cermat menghitung tambahan kewajiban utang.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Rencana Induk Pemulihan Pascabencana Aceh hingga Sumbar sampai 2028

Penerbitan obligasi ketika daerah sudah memiliki beban utang dapat memperbesar tekanan terhadap anggaran. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyulitkan kepala daerah yang menjalankan pemerintahan setelahnya.

“Bayangin kalau seandainya dia punya kemampuan fiskal rendah, sudah ada utang, suruh mengeluarkan obligasi lagi. Tambah berat lagi bagi kepala daerah berikutnya. Nanti tekor nantinya,” ujar Tito.

Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan setiap pembiayaan melalui obligasi memiliki perencanaan yang matang. Pemda juga perlu menghitung sumber pendapatan yang akan digunakan untuk membayar kewajiban tersebut. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Airlangga Bertemu PM Kanada Mark Carney, Bahas Perdagangan hingga Investasi Mineral Kritis
Tito Minta Pemda Segera Gunakan Anggaran Karhutla Rp760 Miliar
Prabowo Sebut 328 BUMN Ditutup, Penghematan Anggaran Capai Rp50 Triliun
TNI Ungkap 44.677 Hektare Tanah Bermasalah, Berpotensi Picu Konflik Agraria
Eks Pejabat Bea Cukai Akui 5 Kali Terima Amplop Uang dari John Field, Total Rp1 Miliar
Bahlil Minta Pemilik Mobil Mewah Tak Lagi Pakai BBM Subsidi, Aturan Pembatasan Disiapkan
95 Paket Pemulihan Pascabencana Agam Senilai Rp125 Miliar Sudah Kontrak, Realisasi Baru 12,3 Persen
Jepang Kirim 3 Helikopter Chinook untuk Karhutla Kalimantan, Menhan Sjafrie Sampaikan Terima Kasih
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 15:09 WIB

Airlangga Bertemu PM Kanada Mark Carney, Bahas Perdagangan hingga Investasi Mineral Kritis

Kamis, 17 September 2026 - 13:09 WIB

Tito Minta Pemda Segera Gunakan Anggaran Karhutla Rp760 Miliar

Rabu, 16 September 2026 - 23:59 WIB

TNI Ungkap 44.677 Hektare Tanah Bermasalah, Berpotensi Picu Konflik Agraria

Rabu, 16 September 2026 - 21:09 WIB

Eks Pejabat Bea Cukai Akui 5 Kali Terima Amplop Uang dari John Field, Total Rp1 Miliar

Rabu, 16 September 2026 - 20:09 WIB

Bahlil Minta Pemilik Mobil Mewah Tak Lagi Pakai BBM Subsidi, Aturan Pembatasan Disiapkan

Berita Terbaru

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (kiri) saat menyetujui konsensus Deklarasi Pemimpin G20 di Rio de Janeiro, Senin (18/11/2024). Terpisah, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menjalani operasi pendarahan otak yang akibat terjatuh baru-baru ini. ?Operasi pada Senin (9/12/2024) malam itu berjalan tanpa komplikasi, ungkap manajemen Rumah Sakit Suriah-Lebanon di Sao Paulo pada Selasa (10/12/2024)(G20 BRASIL)

Internasional

Lula Akan Temui Trump di PBB, Minta AS Tak Ikut Campur Pemilu Brasil

Kamis, 17 Sep 2026 - 12:09 WIB