Sekolah Negeri Gratis Mulai Ditinggalkan? Ini Alasan Orangtua Ramai Pilih Sekolah Swasta

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi orangtua mempertimbangkan pilihan sekolah negeri dan sekolah swasta untuk pendidikan anak.

Ilustrasi orangtua mempertimbangkan pilihan sekolah negeri dan sekolah swasta untuk pendidikan anak.

Jakarta, albrita.com — Banyak orangtua kelas menengah kini lebih memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta meski pemerintah menyediakan sekolah negeri gratis.

Fenomena tersebut muncul karena banyak orangtua menganggap sekolah swasta menawarkan kualitas pendidikan, kedisiplinan, dan lingkungan belajar yang lebih baik.

Selain itu, kekhawatiran terhadap pergaulan anak serta ketidakmerataan kualitas sekolah negeri ikut memengaruhi keputusan para orangtua.

Orangtua Anggap Sekolah Swasta Lebih Berkualitas

Sebagian besar orangtua menilai sekolah swasta memiliki sistem pembelajaran lebih terstruktur dan aturan disiplin lebih kuat.

Tidak hanya itu, banyak sekolah swasta menyediakan fasilitas belajar lengkap, mulai dari ruang kelas nyaman hingga laboratorium dan teknologi pembelajaran modern.

Karena alasan tersebut, para orangtua merasa lebih yakin anak bisa memperoleh pengalaman belajar yang optimal.

Lingkungan Sosial Jadi Pertimbangan

Selain kualitas pendidikan, lingkungan sosial juga menjadi perhatian utama para orangtua.

Banyak orangtua merasa khawatir terhadap risiko pergaulan bebas, bullying, dan tekanan sosial yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Baca Juga :  KPAI Ungkap Kasus Penelantaran Anak Tertinggi Terjadi di Jawa Barat

Di sisi lain, banyak sekolah swasta menerapkan sistem pengawasan lebih ketat dan pendekatan lebih personal kepada siswa.

Banyak sekolah swasta juga memasukkan pendidikan karakter dan pendidikan agama ke dalam aktivitas sehari-hari siswa.

Karena itu, orangtua merasa anak tidak hanya memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga nilai moral dan spiritual.

Sistem Zonasi Picu Orangtua Pilih Swasta

Kebijakan zonasi sekolah negeri turut mendorong sebagian orangtua beralih ke sekolah swasta.

Sebagian masyarakat menganggap sistem zonasi membuat mereka sulit memilih sekolah sesuai kualitas yang diinginkan.

Selain itu, pemerintah belum mampu meratakan kualitas sekolah negeri di berbagai daerah.

Beberapa sekolah negeri memang memiliki mutu pendidikan sangat baik. Namun, sebagian sekolah lain masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan kekurangan tenaga pendidik.

Kondisi tersebut akhirnya mendorong banyak orangtua memilih sekolah swasta karena dianggap lebih stabil.

Baca Juga :  Gempa Susulan M 6 Guncang Gorontalo Setelah Gempa Dahsyat M 7,7 Filipina, BMKG Keluarkan Peringatan

Orangtua Rela Berkorban Demi Pendidikan Anak

Tekanan sosial dan kekhawatiran terhadap masa depan anak juga mendorong orangtua memilih sekolah swasta.

Banyak orangtua rela mengurangi gaya hidup, menambah jam kerja, hingga mencicil biaya sekolah demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak.

Mereka berharap pendidikan yang lebih baik mampu membantu anak bersaing di masa depan.

Tren Ini Berpotensi Perlebar Kesenjangan Pendidikan

Di sisi lain, meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah swasta berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan nasional.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, sekolah negeri bisa kehilangan kepercayaan publik.

Selain itu, masyarakat juga dapat memandang pendidikan sebagai layanan premium yang hanya mudah dijangkau kelompok tertentu.

Karena itu, orangtua perlu menyesuaikan pilihan sekolah dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.

Baik sekolah negeri maupun swasta tetap bisa menjadi pilihan terbaik selama sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Sampai Terlambat, Ini 7 Kondisi yang Mengharuskan Ganti Sertifikat Tanah
Tito Karnavian Ungkap Banyak Daerah Mengaku Tak Mampu Bayar Gaji PPPK
Komisi II DPR Tegaskan PPPK dan PPPK Paruh Waktu Tidak Boleh Diberhentikan
Tito Karnavian Soroti Honorer Datang Jam 8 Pulang Jam 10, Kepala Daerah Diminta Stop Rekrutmen
Mengapa Kasus Rudapaksa di Pesantren Masih Terus Terjadi? Ini Faktor yang Memicunya
Gempa Susulan M 6 Guncang Gorontalo Setelah Gempa Dahsyat M 7,7 Filipina, BMKG Keluarkan Peringatan
Pertamina Ungkap Solar Subsidi di Sumbar Over Kuota 19 Persen
Jemaah Haji Kloter KJT-04 Akhirnya Pulang Setelah Penerbangan Tertunda
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:09 WIB

Tito Karnavian Ungkap Banyak Daerah Mengaku Tak Mampu Bayar Gaji PPPK

Senin, 8 Juni 2026 - 17:09 WIB

Komisi II DPR Tegaskan PPPK dan PPPK Paruh Waktu Tidak Boleh Diberhentikan

Senin, 8 Juni 2026 - 14:09 WIB

Tito Karnavian Soroti Honorer Datang Jam 8 Pulang Jam 10, Kepala Daerah Diminta Stop Rekrutmen

Senin, 8 Juni 2026 - 13:09 WIB

Mengapa Kasus Rudapaksa di Pesantren Masih Terus Terjadi? Ini Faktor yang Memicunya

Senin, 8 Juni 2026 - 09:09 WIB

Gempa Susulan M 6 Guncang Gorontalo Setelah Gempa Dahsyat M 7,7 Filipina, BMKG Keluarkan Peringatan

Berita Terbaru

Trofi Piala Dunia yang akan diperebutkan kembali dalam Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru karena diikuti 48 negara yang dibagi dalam 12 grup di mana dua tim teratas setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik maju ke babak 32 besar.(TANGKAPAN LAYAR TWITTER FIFA)

Internasional

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Selasa, 9 Jun 2026 - 18:09 WIB