DPR Minta Audit 6.877 Dapur MBG, Potensi Pemborosan Capai Rp1 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini berharap kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak terulang lagi di bawah kepemimpinan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Nanik S Deyang.(KOMPAS.com/Nugraha Perdana )

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini berharap kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak terulang lagi di bawah kepemimpinan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Nanik S Deyang.(KOMPAS.com/Nugraha Perdana )

Jakarta, APGtimes.com — Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Yahya Zaini meminta pemerintah segera mengaudit 6.877 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika menemukan kejanggalan atau dugaan penyimpangan pembayaran.

Yahya menyampaikan permintaan tersebut setelah pemerintah menemukan potensi pemborosan anggaran MBG hingga Rp1 triliun per bulan. Pemborosan itu muncul setelah jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bertambah 6.877 titik dari target awal.

“Jika terdapat kejanggalan atau penyimpangan pembayaran hendaknya dilakukan audit terhadap ribuan dapur tersebut,” kata Yahya, Jumat (12/6/2026).

Menurut Yahya, Badan Gizi Nasional (BGN) harus mengawasi proses pembayaran kepada setiap dapur MBG secara ketat. BGN juga harus memastikan setiap transaksi sesuai dengan pengeluaran riil di lapangan.

Ia menegaskan BGN tidak boleh membayar tanpa verifikasi yang jelas. Langkah tersebut penting untuk mencegah kebocoran dan pemborosan anggaran negara.

“BGN harus berhati-hati dan memastikan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak asal bayar, pembayaran harus sesuai dengan pengeluaran yang dilakukan oleh setiap dapur,” ujarnya.

DPR Dorong Sanksi Tegas untuk Dapur Bermasalah

Yahya juga meminta BGN menjatuhkan sanksi kepada pengelola dapur yang melanggar aturan. Menurut dia, BGN perlu menghentikan sementara operasional dapur yang terbukti melakukan penyimpangan.

Baca Juga :  BGN Minta SPPG Perbanyak Penerima Manfaat Ibu Hamil dan Balita

“Jika terbukti terjadi penyimpangan sebaiknya dapur tersebut diberikan sanksi seperti pemberhentian sementara,” katanya.

Selain audit, Yahya mendorong BGN memperbaiki tata kelola Program MBG secara menyeluruh. Ia menilai evaluasi ketat dapat mencegah masalah serupa muncul kembali pada masa mendatang.

“Perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap tata kelola MBG, dilakukan evaluasi secara ketat, dan dipastikan pengelolaan sesuai aturan yang berlaku,” ucapnya.

Yahya menilai kasus ini menjadi momentum bagi BGN untuk memperkuat sistem pengawasan. Ia juga meminta lembaga tersebut menutup setiap celah yang berpotensi memicu pemborosan anggaran.

Menurut dia, BGN harus menjalankan kebijakan efisiensi secara konsisten agar kasus kelebihan pembayaran tidak kembali terjadi.

Zulkifli Hasan Soroti Potensi Pemborosan Rp1 Triliun

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkap potensi pemborosan anggaran MBG mencapai Rp1 triliun setiap bulan.

Zulkifli mengatakan angka tersebut bisa mencapai Rp12 triliun dalam setahun apabila pemerintah tidak segera melakukan penataan.

Baca Juga :  Daftar Harga Pupuk Subsidi dan Non Subsidi Juni 2026, Urea hingga NPK Terbaru

“Berarti kalau satu tahun berapa itu, Rp12 triliun. Maka perlu penataan agar bisa diperbaiki dan diselesaikan,” kata Zulkifli saat menghadiri rapat di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Zulkifli menyampaikan pernyataan itu setelah mengikuti rapat peningkatan kualitas layanan MBG dan SPPG terpencil bersama Kepala BGN Nanik S Deyang.

Jumlah SPPG Bertambah 6.877 Titik

Zulkifli menjelaskan jumlah SPPG saat ini mencapai 27.877 titik. Angka tersebut melampaui target awal yang hanya 21.000 titik.

Ia mengaku menerima laporan mengenai dugaan praktik jual beli titik SPPG yang menyebabkan jumlah lokasi bertambah di luar rencana pemerintah.

“Rencana awal titik itu 21.000, tetapi sekarang sudah mencapai 27.877 titik. Ada pembengkakan sebanyak 6.877 titik,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan proses penataan tata kelola BGN selesai dalam satu bulan. Setelah itu, pemerintah akan melanjutkan program yang berjalan baik dan memperbaiki berbagai temuan yang masih bermasalah.

Zulkifli berharap pergantian manajemen BGN dapat memperkuat pengawasan program MBG. Ia juga optimistis langkah tersebut akan meningkatkan kualitas tata kelola serta efektivitas pelaksanaan program di lapangan. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPR Panggil Pertamina, Waspadai Lonjakan Konsumsi Pertalite Usai Pertamax Naik
Sidang Blueray Cargo Bongkar Dugaan Aliran Dana Rp91 Miliar ke Bea Cukai, BPOM, dan Kemendag
Harga Pertalite Hari Ini 13 Juni 2026 Tetap Rp10.000 per Liter, Stok Dipastikan Aman
Pertalite Langka Usai Harga Pertamax Naik, Warga dan Ojol Kelimpungan
Daftar Harga Pupuk Subsidi dan Non Subsidi Juni 2026, Urea hingga NPK Terbaru
Arab Saudi dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata
63 Ribu Jemaah Haji Sudah Pulang ke Indonesia, Kemenhaj Sampaikan Kabar Terbaru
Harga Obat Bisa Naik hingga 20 Persen, Menkes: Jangan Ambil Untung dari Rupiah Melemah
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:09 WIB

DPR Panggil Pertamina, Waspadai Lonjakan Konsumsi Pertalite Usai Pertamax Naik

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:09 WIB

Harga Pertalite Hari Ini 13 Juni 2026 Tetap Rp10.000 per Liter, Stok Dipastikan Aman

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:09 WIB

DPR Minta Audit 6.877 Dapur MBG, Potensi Pemborosan Capai Rp1 Triliun

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:09 WIB

Pertalite Langka Usai Harga Pertamax Naik, Warga dan Ojol Kelimpungan

Jumat, 12 Juni 2026 - 15:07 WIB

Daftar Harga Pupuk Subsidi dan Non Subsidi Juni 2026, Urea hingga NPK Terbaru

Berita Terbaru