Jakarta, APGtimes.com — Meta Platforms mulai menjalankan restrukturisasi besar-besaran di tengah fokus perusahaan memperkuat pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu memangkas sekitar 8.000 pegawai secara global dan memindahkan sekitar 7.000 karyawan lain ke divisi AI baru.
Meta Fokus Besar ke Pengembangan AI
Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi besar Meta untuk memperkuat pengembangan AI dan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Gelombang PHK mulai berlangsung pada Rabu (20/05/2026). Pegawai Meta di Singapura menjadi kelompok pertama yang menerima pemberitahuan pemutusan hubungan kerja.
Laporan menyebut para pegawai menerima email PHK sekitar pukul 04.00 waktu setempat.
Selain Singapura, Meta juga menjadwalkan pengiriman pemberitahuan kepada pegawai di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain.
Ribuan Pegawai Dipindah ke Divisi AI
Sebelumnya, Meta telah memberi tahu pegawai bahwa sekitar 10 persen tenaga kerja perusahaan akan terkena PHK pada Mei 2026.
Di sisi lain, perusahaan juga memindahkan sekitar 7.000 pegawai ke proyek AI baru yang mencakup pengembangan produk dan agen AI.
Meta membentuk divisi baru bernama Applied AI and Engineering yang dipimpin Maher Saba.
Divisi tersebut kini berisi sekitar 2.000 pegawai dan fokus mengembangkan berbagai alat AI.
Zuckerberg Jadikan AI Prioritas Utama
CEO Mark Zuckerberg menjadikan AI sebagai prioritas utama perusahaan.
Meta bahkan menyiapkan investasi lebih dari 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.764 triliun untuk pengembangan AI sepanjang tahun ini.
Perusahaan memperkirakan total belanja modal bisa mencapai 145 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.557 triliun.
Meta mengalokasikan dana tersebut untuk memperkuat persaingan dengan OpenAI dan Alphabet.
Pegawai Mulai Cemas
Restrukturisasi besar-besaran tersebut memicu keresahan di kalangan pegawai Meta.
Sejumlah pegawai mengaku khawatir kehilangan pekerjaan sehingga mulai membawa pulang charger laptop dan perlengkapan kantor.
Selain itu, ratusan pegawai juga memprotes program pelacakan data internal perusahaan untuk kebutuhan pelatihan AI.
Lebih dari 1.000 pegawai bahkan menandatangani petisi penolakan terhadap program tersebut.
Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mengakui banyak pegawai merasa cemas terkait masa depan mereka.
“Ada sangat banyak pegawai yang merasa cemas tentang masa depan mereka,” ujar Bosworth. (dr*)








