Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Mata uang Garuda bahkan mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp17.893 per dolar AS atau melemah 48 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut di tengah berbagai sentimen global dan domestik.
Tidak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap dolar Singapura. Pada perdagangan yang sama, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp14.000 per dolar Singapura sebelum kembali menguat ke posisi Rp13.982 per dolar Singapura.
Sepanjang perdagangan, dolar Singapura bergerak pada kisaran Rp13.932 hingga Rp14.001. Sementara itu, sejak awal 2026, mata uang Negeri Singa tersebut menguat sekitar 7,34 persen terhadap rupiah.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia masih sangat kuat.
Menurut Ibrahim, level tersebut bukan hanya mencatatkan rekor pelemahan baru. Kondisi itu juga menunjukkan rupiah belum menemukan titik keseimbangan yang mampu memulihkan kepercayaan pasar.
Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar Singapura hingga kisaran Rp15.000 sampai Rp16.000 jika berbagai faktor yang membebani pasar keuangan Indonesia belum membaik.
“Jadi memang rupiah terhadap dollar Singapura sudah menyentuh atau mendekati level Rp14.000 yang merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah. Tetapi ada kemungkinan besar rupiah terhadap dollar Singapura akan menuju level Rp15.000-Rp16.000,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Menurutnya, sejumlah persoalan fundamental di dalam negeri juga memengaruhi pandangan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Ia mengatakan pelaku pasar saat ini mencermati berbagai kebijakan pemerintah yang membutuhkan anggaran besar. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap prospek fiskal nasional pada masa mendatang.
“Kita tahu bahwa banyak program pemerintah yang bernilai jumbo dan besar sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap defisit anggaran,” kata Ibrahim. (dr*)









