Sarawak, APGtimes.com – Sebanyak 108 sekolah di Divisi Serian, Sarawak, Malaysia, menghentikan kegiatan belajar di sekolah setelah kualitas udara memburuk dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Indeks Pencemaran Udara atau Air Pollutant Index (API) di Serian mencapai 202. Sementara itu, API di Tebedu menyentuh angka 212 pada Rabu (12/8/2026).
Wakil Perdana Menteri Sarawak sekaligus Ketua Komite Pengelolaan Bencana Negara Bagian (SDMC), Datuk Amar Douglas Uggah Embas, mengatakan pemerintah mengambil langkah tersebut untuk melindungi kesehatan dan keselamatan siswa serta tenaga pendidik.
Sekolah tetap menjalankan pembelajaran dari rumah melalui skema Teaching and Learning from Home (PdPR). Siswa mengikuti kegiatan belajar tanpa harus datang ke sekolah selama kondisi udara belum membaik.
Pemerintah Sarawak mencatat kualitas udara mulai memburuk sejak 1 Agustus 2026. Pemerintah negara bagian bersama lembaga terkait terus memantau kualitas udara, cuaca, titik panas, dan kebakaran di berbagai wilayah.
Sebelas wilayah lain juga mencatat kualitas udara tidak sehat dengan API antara 101 hingga 200. Wilayah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.
Sementara itu, Mukah, Kapit, ILP Miri, Limbang, dan Bario masih mencatat kualitas udara dalam kategori sedang. Pemerintah tidak mencatat wilayah Sarawak yang masuk kategori baik maupun berbahaya.
3.853 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Kondisi udara Sarawak memburuk bersamaan dengan meningkatnya jumlah titik panas di Kalimantan, Indonesia.
Data Asean Specialised Meteorological Centre (ASMC) menunjukkan 75 titik panas muncul di Sarawak sepanjang 1-11 Agustus 2026. Pada periode yang sama, Kalimantan mencatat 3.853 titik panas.
Jumlah tersebut menjadi perhatian pemerintah Sarawak karena kebakaran di Kalimantan berpotensi memicu kabut asap lintas batas.
Meski demikian, jumlah titik panas tidak otomatis membuktikan seluruh kabut asap di Sarawak berasal dari Kalimantan. Faktor cuaca, arah angin, serta kebakaran lokal juga dapat memengaruhi kondisi udara.
Pemerintah Sarawak kini memperketat pemantauan untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara lebih lanjut. Langkah tersebut juga bertujuan menjaga kesehatan masyarakat, terutama siswa dan tenaga pendidik. (de*)









