Menhut Tegaskan Semua Data Hotspot Karhutla Mengacu Sipongi, Riau dan Jambi Nol Titik Api

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 1 September 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, Kamis (28/8/2026)(KOMPAS.com/Rahel)

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, Kamis (28/8/2026)(KOMPAS.com/Rahel)

Jakarta, APGtimes.com – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemerintah menggunakan sistem pemantauan Sipongi sebagai rujukan utama untuk memantau titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pernyataan itu muncul setelah terdapat perbedaan data perkembangan hotspot antara Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Data yang kita pakai, antara BNPB, BMKG, dan Kementerian Kehutanan pasti ini, Sipongi tadi yang saya lihat,” kata Raja Juli saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Raja Juli menjelaskan, kementerian dan lembaga terkait menggunakan data Sipongi dalam memantau perkembangan karhutla. Ia juga memastikan masyarakat dapat mengakses sistem tersebut secara terbuka.

Menhut Sebut Data Sipongi Real Time

Raja Juli menunjukkan data Sipongi per 31 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB. Menurut dia, sistem tersebut memperbarui informasi secara real time sehingga masyarakat dapat melihat perkembangan hotspot secara langsung.

“Ini bisa diakses teman-teman media juga ya. Ini bisa diakses. Ini bukan ditutup-tutupi, real time,” tegas Raja Juli.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Terancam Gagal Bayar Juli 2027

Ia menduga perbedaan data antara satu lembaga dengan lembaga lainnya terjadi karena perbedaan waktu pengambilan data.

“Mungkin perbedaannya adalah data yang disampaikan itu kapan,” ujarnya.

Hotspot Kalimantan Masih Fluktuatif

Berdasarkan data Sipongi yang ditampilkan Raja Juli, jumlah hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan mengalami perubahan dalam beberapa hari terakhir.

Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mencatat kenaikan hotspot pada 25 hingga 29 Agustus. Namun, jumlahnya kembali turun pada 30 dan 31 Agustus.

Pada 31 Agustus, Sipongi mencatat 272 hotspot di Kalimantan Barat dan 253 hotspot di Kalimantan Tengah.

Kondisi serupa juga terlihat di Kalimantan Selatan. Jumlah hotspot turun hingga 16 titik pada 28 Agustus. Namun, angka tersebut melonjak menjadi 108 titik pada 29 Agustus sebelum kembali turun menjadi 22 titik pada 31 Agustus.

Riau dan Jambi Catat Nol Hotspot

Sementara itu, Sumatera Selatan menunjukkan tren yang lebih terkendali. Jumlah hotspot sempat turun pada 25 hingga 27 Agustus, kemudian kembali meningkat sebelum turun lagi hingga 31 Agustus.

Baca Juga :  Pemerintah Resmi Terbitkan Izin, Pembangunan 17 Yonif Teritorial TNI AD Segera Berjalan

Raja Juli juga menceritakan pengalamannya saat mengecek langsung kondisi karhutla di Sumatera Selatan. Saat itu, sistem mencatat 37 hotspot, tetapi pemeriksaan di lapangan menemukan jumlah firespot yang lebih sedikit.

“Ini pengalaman sekaligus saya reviu semacam kemarin di Sumatera Selatan, saya baru ke Sumatera Selatan, hotspot-nya ada 37 tapi ketika dicek firespot-nya ternyata hanya 11,” kata Raja Juli.

Kabar positif datang dari Riau dan Jambi. Menurut data Sipongi, kedua provinsi tersebut mencatat nol hotspot.

Raja Juli mengatakan Riau bahkan sudah mencatat nol hotspot selama dua hari berturut-turut, yakni pada 30 dan 31 Agustus 2026.

“Dua provinsi yang paling bawah yaitu Riau dan Jambi itu hotspot-nya sudah nol. Alhamdulillah,” ujar Raja Juli.

Pemerintah terus memantau perubahan titik panas di berbagai daerah untuk mengantisipasi munculnya kebakaran baru, terutama di wilayah yang masih menunjukkan pergerakan hotspot secara fluktuatif. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cara Cek PBI JK September 2026 Lewat HP, Ketahui Status BPJS Kesehatan Gratis
Airlangga Bertemu PM Kanada Mark Carney, Bahas Perdagangan hingga Investasi Mineral Kritis
Tito Minta Pemda Segera Gunakan Anggaran Karhutla Rp760 Miliar
Prabowo Sebut 328 BUMN Ditutup, Penghematan Anggaran Capai Rp50 Triliun
TNI Ungkap 44.677 Hektare Tanah Bermasalah, Berpotensi Picu Konflik Agraria
Eks Pejabat Bea Cukai Akui 5 Kali Terima Amplop Uang dari John Field, Total Rp1 Miliar
Bahlil Minta Pemilik Mobil Mewah Tak Lagi Pakai BBM Subsidi, Aturan Pembatasan Disiapkan
95 Paket Pemulihan Pascabencana Agam Senilai Rp125 Miliar Sudah Kontrak, Realisasi Baru 12,3 Persen
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 16:09 WIB

Cara Cek PBI JK September 2026 Lewat HP, Ketahui Status BPJS Kesehatan Gratis

Kamis, 17 September 2026 - 15:09 WIB

Airlangga Bertemu PM Kanada Mark Carney, Bahas Perdagangan hingga Investasi Mineral Kritis

Kamis, 17 September 2026 - 13:09 WIB

Tito Minta Pemda Segera Gunakan Anggaran Karhutla Rp760 Miliar

Kamis, 17 September 2026 - 10:09 WIB

Prabowo Sebut 328 BUMN Ditutup, Penghematan Anggaran Capai Rp50 Triliun

Rabu, 16 September 2026 - 23:59 WIB

TNI Ungkap 44.677 Hektare Tanah Bermasalah, Berpotensi Picu Konflik Agraria

Berita Terbaru

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (kiri) saat menyetujui konsensus Deklarasi Pemimpin G20 di Rio de Janeiro, Senin (18/11/2024). Terpisah, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menjalani operasi pendarahan otak yang akibat terjatuh baru-baru ini. ?Operasi pada Senin (9/12/2024) malam itu berjalan tanpa komplikasi, ungkap manajemen Rumah Sakit Suriah-Lebanon di Sao Paulo pada Selasa (10/12/2024)(G20 BRASIL)

Internasional

Lula Akan Temui Trump di PBB, Minta AS Tak Ikut Campur Pemilu Brasil

Kamis, 17 Sep 2026 - 12:09 WIB