Luhut Tegaskan Indonesia Tak Akan Kolaps, Investor Diminta Jangan Ragu Tanam Modal

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers Perlinsos di Kantor DEN, Jakarta, Kamis (10/9/2026).(KOMPAS.com/CITA AULIANA)

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers Perlinsos di Kantor DEN, Jakarta, Kamis (10/9/2026).(KOMPAS.com/CITA AULIANA)

Jakarta, APGtimes.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta investor domestik dan internasional tidak ragu menanamkan modal di Indonesia.

Luhut menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Luhut, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang sehat meski ekonomi global menghadapi ketidakpastian. Ia juga menilai prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang tetap kuat.

“Pesan saya sangat jelas dan sederhana bagi para investor: jangan ragu untuk berinvestasi di negara ini,” ujar Luhut seperti dikutip Antara.

Luhut Pastikan Ekonomi Indonesia Tetap Bertahan

Luhut mengakui Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dari dalam negeri. Namun, pemerintah terus memperbaiki berbagai persoalan tersebut.

Pemerintah juga terus memperkuat industri nasional, tata kelola pemerintahan, serta kualitas sumber daya manusia.

Luhut menegaskan tekanan ekonomi global tidak akan membuat Indonesia mengalami kehancuran ekonomi.

Baca Juga :  Rupiah Nyaris Tembus Rp17.900 per Dolar AS, Analis Prediksi Tekanan Belum Berakhir

“Fundamental ekonomi kita tetap sehat dan prospek jangka panjang kita sangat kuat. Indonesia tidak akan kolaps,” katanya.

Investasi Tak Lagi Sekadar Alih Teknologi

Luhut mengatakan pemerintah kini mengubah arah kerja sama investasi dengan mitra internasional.

Indonesia tidak hanya mengejar alih teknologi. Pemerintah juga mendorong perusahaan dan mitra asing melakukan inovasi bersama serta meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal.

Menurut Luhut, pola tersebut dapat memberikan manfaat lebih besar bagi industri nasional.

Investasi tidak hanya membawa tambahan modal. Kerja sama juga harus meningkatkan kemampuan industri dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Nikel dan Kendaraan Listrik Jadi Contoh

Luhut mencontohkan industri nikel, baterai, dan kendaraan listrik sebagai sektor yang dapat menerapkan model kerja sama tersebut.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar AS, Ketua Banggar DPR Sebut Sudah Terlalu Murah

Ia mendorong mitra internasional membangun laboratorium bersama dengan Indonesia. Selain itu, mitra juga dapat melatih para insinyur nasional dan melibatkan peneliti muda dalam proyek riset.

Dengan pola tersebut, para insinyur Indonesia bisa ikut mengembangkan teknologi bersama mitra dari luar negeri.

Pemerintah Siapkan Investasi Berkelanjutan

Luhut menjelaskan bahwa pengembangan teknologi membutuhkan proses panjang. Pada tahap awal, peneliti membutuhkan pendanaan yang sabar atau patient funding.

Setelah teknologi menunjukkan hasil, pengembang dapat menjalankan proyek percontohan. Jika proyek tersebut berhasil, investor dapat melanjutkan pendanaan untuk memperbesar skala produksi.

Karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga konsistensi kebijakan dan menyederhanakan prosedur birokrasi.

Langkah tersebut bertujuan memastikan komitmen investasi tidak berhenti sebagai kesepakatan. Pemerintah ingin investasi tersebut benar-benar berubah menjadi proyek dan kegiatan ekonomi di Indonesia. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 7 Oktober 2026, Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama
Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen
Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB
Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara
Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta
PPh 21 2027 Berlanjut, Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Jadi Sasaran
Asing Jual Bersih Rp204,3 Miliar di Sesi I, GOTO Paling Banyak Dilepas
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Luhut Tegaskan Indonesia Tak Akan Kolaps, Investor Diminta Jangan Ragu Tanam Modal

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 7 Oktober 2026, Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB

Berita Terbaru