Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan sejauh 2 kilometer dari Pelabuhan Gyirong beberapa hari setelah tanah longsor pada 26 Agustus yang menghancurkan pelabuhan tersebut, di Kabupaten Gyirong, wilayah Tibet barat, China, pada 29 Agustus 2026. (CNS/AFP)

Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan sejauh 2 kilometer dari Pelabuhan Gyirong beberapa hari setelah tanah longsor pada 26 Agustus yang menghancurkan pelabuhan tersebut, di Kabupaten Gyirong, wilayah Tibet barat, China, pada 29 Agustus 2026. (CNS/AFP)

Kathmandu, APGtimes.com – Pemerintah Nepal mengaitkan banjir bandang dahsyat di kawasan Himalaya dengan dampak perubahan iklim.

Pejabat Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Lingkungan Nepal Maheshwar Dhakal mengatakan aktivitas manusia ikut memperbesar risiko bencana di kawasan pegunungan.

Dhakal menilai peningkatan emisi gas rumah kaca selama puluhan tahun telah mempercepat perubahan iklim. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan ancaman terhadap negara-negara yang memiliki kontribusi kecil terhadap emisi global.

“Mereka yang kontribusinya paling minim justru menanggung dampak terberat,” ujar Dhakal seperti dikutip The New York Times.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan banjir di Sungai Bhote Koshi, Rasuwa, bukan sekadar banjir biasa.

Banjir Tewaskan Ratusan Orang

Banjir bandang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026.

Bencana tersebut menewaskan ratusan orang dan membuat ribuan warga belum ditemukan. Pemerintah Nepal terus melakukan pencarian dan penyelamatan di sejumlah wilayah terdampak.

Shah menyebut longsoran salju dan es di kawasan Himalaya turut memicu bencana tersebut.

Baca Juga :  Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang

Namun, para ilmuwan belum memastikan perubahan iklim sebagai satu-satunya penyebab runtuhnya gletser.

Mereka menilai perubahan iklim memang meningkatkan risiko di kawasan Himalaya. Suhu yang terus naik mempercepat pencairan gletser dan lapisan permafrost di sejumlah wilayah pegunungan.

Kondisi itu dapat membuat lereng dan struktur es semakin tidak stabil.

Nepal Butuh Rp88 Triliun untuk Pemulihan

Pemerintah Nepal memperkirakan biaya pemulihan akibat bencana mencapai 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp88 triliun.

Karena keterbatasan kemampuan anggaran, Nepal meminta bantuan melalui dana khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menangani kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim.

Dalam surat kepada dewan dana iklim PBB, pemerintah Nepal meminta bantuan keuangan segera untuk membiayai pemulihan.

Namun, dana tersebut menghadapi tekanan karena banyak negara juga mengajukan permintaan bantuan.

PBB sejauh ini menerima komitmen pendanaan sekitar 820 juta dollar AS atau sekitar Rp14 triliun. Sementara itu, 119 negara telah mengajukan permintaan bantuan dengan nilai total sekitar 2,8 miliar dollar AS atau Rp49 triliun.

Baca Juga :  Kapal Maersk Keluar Selat Hormuz dengan Pengawalan AS, Ini Fakta Lengkapnya

Richard Sherman, anggota dewan dana asal Afrika Selatan, memperkirakan Nepal mungkin hanya memperoleh sekitar 20 juta dollar AS atau Rp354 miliar.

Sherman menyarankan Nepal mempertimbangkan sumber pendanaan lain, termasuk pinjaman dari Bank Dunia.

Himalaya Hadapi Ancaman Pemanasan

Kawasan Himalaya dan Hindu Kush mengalami pemanasan dengan cepat. Kenaikan suhu membuat gletser mencair lebih cepat dan meningkatkan perubahan pada lingkungan pegunungan.

Dampak tersebut menjadi perhatian besar karena kawasan Himalaya dan Hindu Kush menyediakan sumber air bagi sekitar 240 juta penduduk di wilayah tersebut.

Sistem sungai yang bersumber dari kawasan pegunungan itu juga menopang kehidupan sekitar 1,65 miliar orang di lembah-lembah sungai Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Bencana Nepal kembali menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi kawasan pegunungan akibat perubahan lingkungan. Namun, para ilmuwan masih terus meneliti hubungan langsung antara perubahan iklim dan runtuhnya gletser yang memicu banjir tersebut. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral
Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia
Macron Tegaskan Sikap Tegas Usai Demo Ricuh di Prancis, Pelaku Penjarahan Bakal Ditindak
Demo Ricuh di Perancis dan Italia, Kemlu Imbau WNI Waspadai Situasi Keamanan
Putin Setujui Usulan Perombakan Kabinet Rusia, Menteri Keuangan Diusulkan Jadi Wakil PM
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB