Jakarta, APGtimes.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta pemerintah mengevaluasi kondisi tempat pengungsian korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Permintaan itu muncul setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 94 orang meninggal dunia saat berada di pengungsian.
Charles mendorong pemerintah melakukan audit untuk mengetahui persoalan kesehatan dan pelayanan yang terjadi di lokasi pengungsian. Ia menilai evaluasi tersebut penting karena jumlah korban meninggal di pengungsian lebih banyak daripada korban yang meninggal secara langsung akibat gempa.
Pemerintah Diminta Audit Kondisi Pengungsian
Charles mengatakan pemerintah perlu segera mengidentifikasi berbagai masalah yang memengaruhi kesehatan para pengungsi.
“Harus ada audit terkait kondisi di tempat pengungsian itu sendiri. Apakah ada permasalahan di sana? Permasalahan kesehatan yang banyak itu seperti apa? Dan penanganannya sampai ini sudah seperti apa,” ujar Charles saat ditemui di Gedung DPR RI, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, evaluasi harus melibatkan sejumlah instansi. Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, BNPB, serta pemerintah daerah perlu bekerja sama untuk menemukan penyebab kematian para pengungsi.
Layanan Kesehatan Pengungsi Harus Diperbaiki
Charles berharap pemerintah segera mengambil langkah agar jumlah korban meninggal di pengungsian tidak terus bertambah.
Ia juga meminta pemerintah menjadikan hasil audit sebagai bahan evaluasi untuk menghadapi bencana berikutnya. Menurut Charles, penanganan bencana tidak berhenti pada proses evakuasi dan penyelamatan korban.
“Korban yang mengungsi harus mendapatkan penanganan dan pelayanan kesehatan yang baik sehingga tidak ada lagi kasus kematian seperti yang terjadi di NTT,” katanya.
BNPB Catat 142 Korban Meninggal
Sebelumnya, BNPB melaporkan jumlah korban meninggal akibat gempa NTT mencapai 142 orang hingga Selasa (15/9/2026).
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, sebanyak 48 orang meninggal secara langsung akibat gempa. Sementara itu, 94 orang lainnya meninggal saat berada di pengungsian.
“Korban yang meninggal secara langsung akibat gempa bumi itu 48 orang, tetapi secara tidak langsung yang ada di pengungsian ada 94 orang,” ujar Berton dalam konferensi pers, Selasa sore.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka. Jumlah pengungsi juga menurun dari sebelumnya lebih dari 150.000 orang menjadi 46.461 orang.
Berton mengatakan penurunan jumlah pengungsi terjadi seiring dengan perkembangan penanganan pascabencana di wilayah terdampak. (de*)









