Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas pada perdagangan pekan ini. Pelaku pasar memilih menahan transaksi agresif sambil menunggu sejumlah indikator ekonomi penting, terutama data inflasi Indonesia.
Rupiah menutup perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, di level Rp17.693 per dolar AS. Angka tersebut menguat 51 poin atau 0,29 persen dari posisi perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp17.744 per dolar AS.
Dalam sepekan, rupiah hanya mencatat penguatan sekitar 0,01 persen. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak stabil. JISDOR berada di level Rp17.703 per dolar AS, sedikit menguat dari Rp17.705 per dolar AS pada pekan sebelumnya.
Analis Pasar Uang dan Komoditas PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, melihat investor masih menerapkan strategi wait and see. Investor membutuhkan kepastian dari sejumlah data ekonomi sebelum mengambil posisi lebih agresif terhadap rupiah.
“Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu, 30 Agustus 2026.
Rupiah Diproyeksikan di Kisaran Rp17.600-Rp17.900
Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang pekan ini.
Menurut Ibrahim, sejumlah faktor domestik dan global akan menentukan arah pergerakan rupiah. Dari dalam negeri, investor paling menantikan data inflasi karena angka tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Jika inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan moneter dan menurunkan suku bunga.
Selain inflasi, investor juga menunggu data perdagangan Indonesia periode Juli 2026 yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Data perdagangan dapat menunjukkan kondisi pasokan, permintaan, serta biaya logistik, terutama untuk komoditas pangan.
Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan pangan dalam negeri masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
“Selain itu, melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal,” ujar Ibrahim.
Ketegangan AS-Iran Masih Jadi Risiko
Dari pasar global, perkembangan geopolitik juga dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Investor masih mencermati ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi itu juga berpotensi mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Pelaku pasar juga akan mencermati pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Investor akan mencari petunjuk mengenai kondisi inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Jika The Fed memberikan sinyal untuk mempertahankan suku bunga AS pada level tinggi, dolar AS berpotensi menguat dan menekan rupiah.
Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan moneter AS dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
Pada periode 24-27 Agustus 2026, JISDOR Bank Indonesia bergerak dalam kisaran Rp17.703 hingga Rp17.762 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih berkonsolidasi sambil menunggu katalis baru dari pasar domestik dan global. (de*)









